Jumat, 01 Juni 2012
KOMUNIKASI TATAP MUKA DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA SMA NEG. 1 KULISUSU
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Salah satu ukuran dan kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari pencapaian tujuan pendidkan nasional yang telah dilaksanakan khususnya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidkan formal. Lembaga pendidkan formal merupakan sarana yang telah dilaksanakan pemerintah yang mempumyai tanggung jawab untuk terus mendidik siswanya. Untuk itu sekolah menyelenggarakan proses belajar mengajar terjadi interaksi guru dengan siswa.
Interaksi yang digunakan agar komunikasi dan interaksi didalam proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik meliputi interaksi antara siswa dengan guru, antara siswa dengan materi pelajaran dan pengalaman verbaldimana bahasa digunakan sebagai alat utama baik lisan maupun tulisan (Surakhmand, 1984)
Berkaitan dengan hal tersebut diatas, guru sebagai pegawai negri sipil diberi tugas dan wewenang untuk melasanakan pendidikan disekolah. guru yang bersifat sebagai komunikator dalam melaksankan poroses belajar mengajar menyampaikan materi pelajaran kepada siswa dan siswa menerima pesan yang disampaikan oleh guru sehingga terjadi hubungan timbal balik antara siswa dengan guru.
Hubungan dengan hal tersebut diatas, komunikasi memberikan peranan penting dalam melaksanakan pendidikan disekolah terutama di SMA Negri 1 Kulisusu Kabupaten Buton Utara. Hal ini sangat diperlikan guru untuk mengefektifkan suatu pelajaran yang diberikan guru kepada siswanya, hal ini komunikasi tatap muka merupakan komunikasi yang berlangsung secara dialogis sehingga dalam situasi seterti ini guru sebagai komunikator dapat menjalankan pertukaran imformasi secara timbal balik dengan siswa sehingga dapat mengkaji diri siswa secara langsung mengenai pengaruh pesan yang disampaikan lewat media sebagai lat bantu pembelajaran yang dipergunakan bersama.
Alat bantu pengajaran merupakan semua jenis sarana pendidikan yang digunakan sebagai perantara dalam proses belajar mengajar untuk meningkatkan efektifitas pencapaian tujuan pendidikan yang mencangkup media grafik, media yang digunakan alat penampilan dan sebagainya (Hamalik, 1979).
Menurut sudjana (1998), alat bantu pembelajaran sebagai perantara atau alat komunikasi sangat membantu dalam pencapain tujuan secara efektif dan efisien mempunyai fungsi dan peran sebagai berikut : 1) meletakan dasar – dasar yang nyata untuk berpikir, karna itu dapat mengugah verbalisme; 2) memperbesar minat perhatian siswa untuk belajar; 3) meletakan dasar untuk perkembanggan belajar sehingga hasil belajar bertambah mantap; 4) memberikan penggalaman yang nyata dan menimbulkan kegiatan usaha sendiri pada siswa; 5) menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambungan; 6) membantu tumbuhnya pemikiran dan membentuk perkembangan berbahasa; 7) bahan pelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga lebih dapat dipahami oleh siswa yang memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik; 8) metode pengajara akan lebih berfariasi tidak semata – mata komunikasi verbal melalui penuturan kata – kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga ; 9) siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan urayan guru tetapi juga aktifitas lain seperti mengamati, melakukan juga mendemonstrasikan.
Agar pelaksanaan komunikasi dalam proses belajar mengajar berlangsung efektif maka guru sebagai sumber perlu sarana atau fasilitas belajar maupun kualitas pengajaran agar dapat menunjang kegiatan proses belajar mengajar. Hal ini dipertimbangkan bahwa keberhasilan siswa dalam belajar sangat ditentukan dengan pertimbangan bahwa kaulitas pengajaran yang sangat baik dan dapat mendudukung kegiatan siswa dengan komunikasi antara siswa dengan guru sehingga dapat meningkatkan belajarnya.
Untuk itu dalam pelaksaan komunikasi tatap muka perlu diketahui faktor yang dapat menunjang prestasi belajar siswa. Berdasarkan urayan diatas penulis termotofasi untuk mengadakan penelitian dengan judul “ efektifitas komunikasi tatap muka dalam meningkatkan prestasi belajar siswa” (studi efek pada SMA Negeri satu Kulisusu. Kabupaten Buton Utara)
1.2 Rumusan Masalah
berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana sebagai mana yang diuraikan diatas, maka masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
• Bagaimana pelaksanaan komunikasi tatap muka dalam meningkatkan prestasi belajar siswa SMA Negeri satu Kulisusu Kab. Buton utara?
• Faktor – faktor apakah yang menunjang prestasi belajar siswa di SMA Negei satu Kulisusu Kab. Buton Utara?
1.3 Tujuan Dan Manfaat Penelitian
1.3.1 Tujuan penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
2 Untuk mengetahui pelaksanaan komunikasi tatap muka dalam peningkatan prestasi belajar siswa SMA Negri satu kulisusu Kab. Buton Utara
3 Untuk mengetaui faktor – faktor yang menunjang prestasi belajar siswa SMA Negeri satu kulisus Kab. Buton utara
1.3.2 Manfaat Penelitian
2 Sebagai bahan masukan bagi guru guru, khususnya guru SMA Negeri satu kulisusu Kabupaten Buton Utara agar senantiasa menciptakan suasana belajar yang efektif dan efisien.
3 Sebagai bahan masukan bagi sekolah yang menjadi objek penelitian agar senantiasa melibatkan media sebagai sebagai alat bantu dalam upaya menciptakan proses belajar mengajar
4 Sebagai bahan refensi dalam komunikasi pada umumnya dan komunikasi pada umumnya dan konsentrasi Humas sebagai pasda khususnya.
1.4 Kerangka pikir
Berdasarkan permasalahan yang telah ada, maka dalam kerangka pikir ini teori relationsip dan teori komunikasi pragmatis merupaka teori yang melandasi untuk pembedahan masalah penelitian yakni efektifitas komunikasi dalam meningkatkan prestasi belajar. Teori relationsip menekankan aspek komuikasi antar pesona yang terjadi antar konteks kelompok kecil dimana terjadi interaksi diantara dua orang yang disadari yang melibatkan persepsi yang mereka miliki satu terhadap yang lain. Dalam hubunganya dengan relationship yang terjadi antara manusia dalam berkomunikasi, teori komunikasi pragmatis merupakan pendekatan untuk membahas komunikasi antar pesona yang didasarkan pada pendekatan sistem perpektif pragmatis.
Menurut Beavin, jackson ( Liliweri, 1994) bahwa teori komunikasi yang prgmatis didasarkan pada asumsi bahwa pertukaran pesan komunikatif bukan terletak pada individu melainkan pada unsur – unsur perilaku komunikasi yang mereka lakukan baik verbal maupun non verbal. Pada teori relatiosnsip (Liliweri, 1994), setiap komunikasi antar pesona menggunakan kode sistem kode imformasi baik verbal maupun non verbal yang terdiri dari kata – kata dan kalimat maupun volume suara dan cara membawakan pesan secara bersama – sama sehingga mudah dimengerti dengan cepat.
Peranan komunikasi dalam belajar mengajar sangat penting, untuk itu diperlukan interaksi belajar sehingga terjadi dua kegiatan yakni kegiatan belajar dan kegiatan mengajar yang berdaya guan dalam pencapaian tujuan pengajaran. Untuk itu dalam proses belajar mengajar perlu diketahui model komunikasi yang diterapkan oleh pengirim pesan penerima pesan. Pada prinsipnya model komunikasi tersebut dapat dilukiskan sebagai berikut :
1. Model komunikasi satu arah
Pesan
Guru Siswa
Gambar 1. Model komunikasi satu arahs
Pada Gambar diatas perhatian Guru pada tertuju pada materi pelajaran, sedangkan siswa hanya dapat mendengarkan.
2. Komunikasi dua arah
Pada komunikasi ini Guru dan siswa dapat berperan sama, yakni pemberi aksi dan penerima aksi.
Pertanyaan
Imformasi / pesan
Guru Siswa
Imformasi / pesan
Pertanyaan
Gambar 2 . model komunikasi dua arah
Pada gambar diatas guru dan siswa saling mengiri, imformasi atau pesan sehingga guru maupun sdalam proses belajar mengaja siswa dudanya sama – sama aktif dalam proses belajar mengajar.
3. Komunikasi multi arah
Komunikasi multi arah merupakan komunikasi yang tidak hanya melibatkan intraksi dinamis antara guru dengan siswa, tetapi juga meli batkan interaksi dinamis antara siswa yang satu dengan siswa yang lain. Lihat gambar berikut :
Guru
Siswa Siswa
Gambar 3. Model komunikasi multi arah
Pada gambar diatas trlihat bahwa semua pihak yang terlihat dalam proses komunikasi mengadakan aksi kesemua arah, sehingga terjadi komunikasi timbal balik antar gura dengan siswa dan antara siswa dengan siswa lain.
Untuk ningkatkan prestasi belajar sangat ditentukan oleh waktu yang diperlukan untuk menjelaskan isis pesan maupun kualitas pengajaran. Menurut Bloom (AECT, 1977) ada variabel utama dalam belajar disekolah yang karakteristik individu, kualitas pengajara dan hasil belajar siswa. Sedangkan Carroll (AECT, 1977) berpendapat bahwa hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi empat faktor yaitu : a) bakat belajar, b) waktu yang diperlukan siswa untuk menjelaskan pelajaran, c) kualitas pengajaran, d) kemampuan individu.
Dengan demikian faktor yang dapat mendukung prestasi belajar sangat ditentukan oleh hasil kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh seorang atau lebih yang menimbulkan efek dan kesempatan untuk arus balik.
Menurut Benny ( masyhuri, 1991) komunikasi adalah proses penyampaian dan pengertian yang mendudkung semua unsur dan prosedur yang dapat mempertemukan suatu pemikiran dengan pemikiran lainya. Sedangkan susanto (1988 ) menyatakan bahwa komunikasi adalah proses pengoperasian lambang – lambang yang mengandung arti.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kominikasi yang terjadi antara komunukator dengan komunikan yang dilakukan secara tatap muka akan efektif apa bila para pelajar bersikap responsif dalam mengkaji isi pesan
Sehubungan dengan itu pengajar harus lebih komunikatif dalam menyajikan pesan agar siswa lebih aktif dalam melakukan kegiatan belajar mengajar sehingga dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
Untuk lebih jelasnya dapat digambarkan sebagai berikut :
Bagan kerangka pikir
Teori relationship
(Liliweri, 1994)
SMA Negeri 1 kulisusu
Efektifitas Komunikasitatp muka
( X )
Bentuk penyajian
- Ceramah
- Diskusi
- Pemberian tugas
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Relaionship
Relationship merupakan aspek penting dalam komunikasi antar pribadi yang terjadi dalam konteks kelompok kecil. Teori relationship menekankan aspek komunikasi antar pesona yang terjadi dalam konteks kelompok kecil dimana terjadi interaksi diantara dua orang yang diusadari yang melibatkan persepsi yang mereka miliki satu terhadap yang lain. Dalam hubungan dengan relationship yang terjadi antar manusia dengan komunikasi,teori komunikasi pragmatis merupakan pendekatan yang disadari pada keadaan psikologi.
Teori komunikasi pragmatis membahas komunikasi antar pesona yang didasarkan pada pendekatan sistem. Menurut Beavin dan jackson (Liliweri,1994) teori komunikasi pragmatis didasarkan atas asumsi bahwa pertukaran pesan pertukaran pesan yang komunikatif bukan terletak pada individu melainkan pada unsusr – insur komuniakasi yang mereka lakukan.
Menurut Mirris (Rakhmat, 1986) teori komunikasi pragmatis menekankan semioties yaitu teori tentang bahasa dan lambang. Teori ini terdiri atas tiga lambang kajian umum yaitu sintaksis,semantijka, dan pragmatik. Sintaksis adalah yang mencangkup studi tentang bagaimana lambang – lambang itu bisa berhubungan dengan lambang yang lain. Semantika adalah studi tentang bagaimana lambang – lambang itu berhubungan dengan orang.
2.2 Komunikasi
Istilah komunikasi atau dalam bahasa inggris “cmmunicatin” berarti Hubungan kata latin “communicatio” yang berarti sama. Sama disini maksudnya adalah sama makna, jadi kalau orang terlibat komunikasi akan terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan makna mengenai apa yang dipercakapkan.
Kesamaan bahasa yang dipergunakan dalam percakapan itu belum dimengerti maknanya dari bahasa yang disampaikan itu. Percakapan yang dimaksud dapat dikatakan komunikatif apabila keduanya dismping selain mengerti bahasa yang dipergunakan juga mengerti makna dari bahasa yang dipercakapkan. Dengan demikian percakapan komunikasi berlangsung atau terjadi apabila pesan yang disampaikan oleh seseorang dimengerti oleh orang lain yang dijadikan sasaran.
Berdasarkan urayan diatas maka komunikasi diartikan sebagai upaya sesorang untuk mengubah pikiran atau perasaan atau perilaku orang lain. Upaya mengubah pikiran yang dimaksud adalah semula tidak mengerti menjadi mengerti dari tidak tahu menjadi tahu.upaya mengubah perasaan ini maksudnya yang semula binggung menjadi bergairah dan upaya mengubah perilku maksudnya adalah dari yang pasif menjadi aktif
Dengan demikian komunikasi adalah seiap bentuk tingkahlaku seseorang baik verbal maupun non verbal untuk mengungkapkan pesan tertentu. Sejalan dengan hal tersebut, Wdjaja (1987) mengutip beberapa devinisi tentang komunikasi yang dibuat oleh para ahli diantaranya adalah :
1. Depari ( widjaja, 1987 ) mengatakan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian gagasan, harapan pesan yang disampaikan melalui lambang tertentu yang mengandung arti yang dilakukan oleh penyampai pesan ditujukan kepada penerima pesan
2. Schemerhrn ( Widjaja, 1987 ) mengatakan bahwa komunikasi adalah proses antar pribadi dalam mengirim dan menerima simbol – simbol yang yang berarti bagi kepentingan mereka
3. Hoveland ( wi1djaja, 1987 ), mengatakan bahwa komunikasi adalah proses dimana seorang indivudu mengoperkan perangsang untuk mengubah tingkah laku individu – individu yang lain.
Untuk itu dalam proses belajar mengajar diperlukan adanya interaktisi yang baik dan aktif antar siswa dengan guru, antar siswa dengan siswa yang lain. Dalam proses belajar mengajar terjadi komunikasi langsung antara pengajar dengan yang diajar yang berlangsung secara tatap muka.
Menurut kushida ( Roestiyah, 1991 : 4 ) komunikas tatap muka adalah proses atau peristiwa tukar menukar ide, pandangan, pemikiran dan pewrasaan antara sesama pribadi yaitu antara kominikator dengan komunikan. Disamping itu pengertian komunikasi tatap muka menurut Roestiyah ( 1991: 34-35) yaitu proses komunikasi dua arah yang mengandung pesan antara komunikator dengan komunikan.
Selanjutnya komunikasi tatap muka juga diartikan sebagai komunikasi antara komunikator dengan komunikan saling berhadapan dan saling melihat. Menurut Susanto ( 1987 ) komunikasi tatap muka adalah komunikasi yang terjadi antara komunikator dengan komunikan yang saling berhadapan.
Berkaitan dengan hal tersebut maka komunikasi antar pesona tatap muka dan proses belajar mengajar saling ampuh dalam upaya mengubah sikap, pendapat dan perilaku dibandingkan komunikasi kelompok dan komunikasi media. Ampuhnya komunikasi antar pesona tatap muka adalah komunikator dapat menguasai sistuasi komunikasi yang sedang berlangsung. Komunikator dapat menguasai tanggapan komunikan secara langsung pada saat sedang melancarkan komunikasinya. Dengan kata lain dalam situasi seperti ini umpan balik terjadi seketika sehingga komunikator mengetahui apakah yang sedang dilancarkan berhasil atau gagal.
Pesan yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan pada hakikatnya adalah pikiran dan perasaan. Pikiran dan perasaan komunikator tidak mungkin diketahui oleh komunikan jika tidak mengguanakan lambang yang sama – sama dimengerti.
Dalam ptoses belajar mengajar lambang yang digunakan dalam komunikasi bukan lambang bahasa tetapi juga lambang non verbal. Lambang no verbal yang digunakan dalam proses belajar mengajar seperti gambar – gambar yang berhubungan dengan materi pelajaran yang disampaikan. Adapun manfaat gambar yang ditonjolkan kepada komunikan yakni agar isi pesan apat menarik minat siswa sehingga perlu dikombinasikan dengan gambar.
Dalam proses komuniksi, penggunaan kode – kode merupakan kesimpulan simbol yang disusun sedemikan rupa sehingga bermakna bagi sesorang. Dalam hal ini unsur utama yang digunakan dalam proses komunikasi adalah kodew yang merupakan unsur pesan yaitu huruf atau kata – kata akan menunjang ketepatan tulisan didalam penyajian pesan.
Pelaksanaan belajar mengajar umumnya dilaksanakan debgan beritik tolak pada beberapa metode penyajian antara lain :
a. Metode Ceramah
Metode ceramah adalah cara guru menyajiakan pelajaran yang dilaukan dengan cara menuturan atau penjelasan kepada siswa. Metode ini merupakan proses pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang hingga saat ini masih diterapkan disekolah. Hal ini dilakukan dengan cara guru memberikan pelajaran dengan siswa menerima pelajaran.
b. Metode diskusi
Metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran dimana siswa dihadapkan dengan suatu masalah yang dapat berupa pertanyaan – ppertanyaan atau tugas – tugas yang harus dibahas dan didskusikan bersamaantara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa lainya. Dalam metodfe ini semua siswa dijak ikut aktif berpikir mengeluarkan pendapat berupa argumen – argumen.
c. Metode pembrerian tugaspelajaran berupa pekerjaan yang jarus diselesaikan siswa dengan pokok bahasan siswa yang diajarkan.
Metode pemberian tugas adalah cara guru memberikan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar