Jumat, 01 Juni 2012
ASPEK INTENSITAS KOMUNIKASI INTERPERSONAL DALAM MEWUJUDKAN KUALITAS HUBUNGAN ANTAR WARGA MASYARAKAT (Studi Komunikator di Kelurahan Bangkudu Kabupaten. Buton Utara)
PROPOSAL
OLEH:
HELNI
C1D3 09 065
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...i
HALAMAN PERSETUJUAN……………………………………………. ..ii
HALAMAN PENGESAHAN iii
DAFTAR ISI xi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...................................................................1
1.2 Rumusan Masalah 4
1.3 Tujuan dan Manfaat 5
1.3.1 Tujuan Penelitian 5
1.3.2 Manfaat Penelitian 5
1.4 Kerangka Fikir 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Komunikasi Antar Persona 12
2.2 Komunikasi Dalam Keluarga 16
2.3 Konsep Keluarga 23
2.4 Bentuk Komunikasi 26
2.5 Etika Komunikasi Dalam Keluarga 28
2.6 Pola Komunikasi Dalam Keluarga 30
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian 34
3.2 Subjek dan Informan penelitian ...................................................... 34
3.2.1 Subyek Penelitian ....................................................................34
3.2.2 Informan Penelitian 34
3.3 Teknik Penentuan Informan 35
3.4 Jenis dan Sumber Data 35
3.4.1 Jenis Data 35
3.4.2 Sumber Data 35
3.5 Teknik Pengumpulan Data 36
3.6 Teknik Analisa Data 36
3.7 Desain Operasional Penelitian......................................................... 37
3.8 Definisi Operasional Penelitian 40
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Komunikasi adalah cara yang digunakan manusia untuk berinteraksi dengan sesamanya. Setiap saat dalam segala segi kehidupan manusia, komunikasi selalu hadir dan memegang peranan yang penting. Melalui komunikasi dengan sesama, manusia dapat memenuhi kebutuhan jasmani dan rohaninya. Relasi antar manusia dibangun melalui komunikasi. Dengan kata lain, komunikasi menjadi sarana yang ampuh untuk membangun sebuah relasi antara kita dengan orang lain. Melalui komunikasi, kita bisa mengenal orang lain dan demikian sebaliknya kita juga dikenal oleh orang lain. Berkomunikasi berarti kita mengungkapkan pikiran, hati, ide, dan keinginan kepada orang lain sehingga eksistensi kita diakui oleh orang lain.
Beberapa alasan umum tentang mengapa seseorang menjalin hubungan dengan orang lain untuk mengurangi kesepian yang muncul ketika kebutuhan interaksi akrab tidak terpenuhi, menguatkan dorongan karena semua manusia membutuhkan dorongan semangat dan salah satu cara terbaik untuk mendapatkannya adalah dengan interaksi antar manusia, memperoleh pengetahuan tentang diri sendiri karena melalui interaksi seseorang akan melihat dirinya seperti orang lain melihatnya, memaksimalkan kesenangan dan meminimalkan rasa sakit dengan cara melalui berbagi rasa dengan orang lain.
Interaksi manusia diawali dari lingkungan yang paling dekat yakni keluarga. Setelah seorang bayi lahir di dunia, pertama-tama ia akan banyak berinteraksi dengan orang tua dan keluarganya. Ruang lingkup interaksi dan kemampuan komunikasinya akan semakin berkembang seiring dengan proses pertumbuhannya. Salah satu dari bentuk interaksi manusia sebagai makhluk sosial adalah hubungan persahabatan.
Bersahabat dekat dengan seseorang itu membutuhkan banyak pengertian, waktu, dan rasa percaya. Persahabatan diperoleh setelah melalui tahap perkenalan. Seorang sahabat merupakan orang yang memiliki kedudukan tertentu dalam hubungan antar pribadi. Menempatkan seseorang menjadi sahabat karena telah mengenal dia dengan baik, selain itu kita juga telah menaruh rasa percaya dan harapan kepada sahabat sebagai seseorang yang mempunyai perhatian terhadap kita. Individu berhubungan dengan individu lain karena mengharapkan sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhannya. Setiap individu secara sukarela masuk dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran (reward) dan biaya (cost). Lebih spesifik lagi, suatu hubungan kemungkinan besar akan dipelihara ketika dianggap menguntungkan.
Hubungan berkembang sejalan dengan waktu melalui proses negosiasi diantara pihak yang terlibat. Maksudnya adalah bahwa antar individu yang terlibat dalam suatu hubungan berusaha saling mengenal sehingga dapat melakukan proses penyesuaian terhadap perbedaan masing-masing. Apabila penyesuaian berhasil hubungan akan berjalan lancar, bertambah dekat dan akrab. Namun apabila penyesuaian tersebut tidak berjalan dengan baik, akan terjadi suatu kemunduran dalam hubungan itu. Hubungan mungkin dapat tumbuh dan maju, menjadi kuat dan lebih bermakna, tetapi mungkin juga dapat menyusut dan mundur, menjadi lemah dan berkurang maknanya.
Persahabatan itu sendiri adalah hubungan yang lebih dari sekedar teman biasa, yang ditandai oleh adanya keakraban, kepercayaan, kejujuran, keseimbangan dan kesejajaran kedudukan. Dalam persahabatan, pelaku-pelakunya akan terlibat dalam proses pertukaran informasi dan cerita-cerita yang bersifat pribadi. Dalam ikatan persahabatan akan ada komunikasi interpersonal yang lebih intensif. Orang-orang yang menjalin suatu persabatan menghabiskan waktu yang lebih banyak untuk berkomunikasi secara interpersonal. Hal ini dapat dilihat dari seberapa sering dan berapa lama waktu yang digunakan untuk berkomunikasi interpersonal, dimana di dalamnya juga diwarnai oleh beberapa hal antara lain adanya rasa percaya, empati, dukungan dan sikap positif.
Persahabatan adalah suatu hal yang bersifat unik dan berbeda antara satu dengan lainya, termasuk dalam hal intensitas komunikasi interpersonal yang terjadi di dalamnya. Demikian juga dengan hubungan persahabatan antar masyarakat jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Haluoleo. Dari observasi awal, peneliti menemukan bahwa intensitas komunikasi interpersonal yang terjadi dalam hubungan persahabatan masyarakat Kelurahan Bangkudu Kabupaten Buton Utara berbeda antara satu dengan lainnya, sehingga menimbulkan kualitas persahabatan yang berbeda pula. Perbedaan itu tampak dari jumlah waktu yang digunakan untuk berkomunikasi secara interpersonal yang juga dipengaruhi oleh rasa percaya, empati, dukungan dan sikap positif.
Di samping itu, dari pengamatan awal yang dilakukan, peneliti menemukan adanya kecenderungan bahwa persahabatan masyarakat di Kelurahan Bangkudu Kabupaten Buton Utara hanya sebatas hubungan formal, yaitu hubungan yang dibentuk hanya sekedar untuk mempermudah masyarakat-masyarakat yang bersangkutan menyelesaikan proses perkuliahan, termasuk dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen. Hal ini tampak dari pengamatan awal yang dilakukan peneliti dimana masyarakat di jurusan Ilmu Komunikasi lebih sering memperlihatkan keakraban disaat menyelesaikan tugas dari dosen, bahkan ada beberapa diantaranya yang mengatasnamakan teman untuk meminta bantuan kepada teman yang lain untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen. Dan tak jarang dilain kesempatan peneliti melihat adanya sikap acuh tak acuh yang ditunjukkan oleh sebagian masyarakat kepada masyarakat lainnya.
Selain itu, keakraban yang terjalin diantara masyarakat Kelurahan Bangkudu Kabupaten Buton Utara lebih pada keakraban di dalam kampus. Sementara di luar kampus intensitas komunikasi yang terjadi tidak sesering dan seakrab di dalam kampus. Hal ini seperti yang diungkapkan beberapa masyarakat Ilmu Komunikasi angkatan 2006 yang mengungkapkan bahwa hubungan persahabatan yang terjalin diantara mereka lebih sering terjadi di lingkungan kampus sementara di luar kampus mereka sangat jarang bertemu. Komunikasi melalui telepon dan SMS pun sangat jarang dilakukan. Terlebih setelah memasuki semester akhir dimana intensitas perkuliahan yang semakin berkurang maka intensitas komunikasi pun semakin jarang terjadi baik secara tatap muka maupun melalui telepon dan SMS.
Fenomena itulah yang mendasari peneliti untuk meneliti lebih lanjut tentang pengaruh intensitas komunikasi interpersonal terhadap kualitas hubungan persahabatan masyarakat Kelurahan Bangkudu Kabupaten Buton Utara.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah:
Sejauh mana intensitas komunikasi interpersonal terhadap kualitas hubungan persahabatan antara masyarakat Kelurahan Bangkudu Kabupaten Buton Utara.
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:
Mengetahui sejauh mana pengaruh intensitas komunikasi interpersonal terhadap kualitas hubungan persahabatan antara masyarakat Kelurahan Bangkudu Kabupaten Buton Utara.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, sebagai berikut :
a. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan pemikiran pada studi ilmu komunikasi dan bahan referensi untuk penelitian mengenai komunikasi interpersonal di masa mendatang.
b. Manfaat Praktis
Bagi Peneliti:
Memberikan tambahan wawasan dan pengalaman bagi peneliti terutama mengenai berbagai teori dan persoalan yang berhubungan dengan komunikasi interpersonal yang terjadi dalam konteks hubungan persahabatan.
Bagi Masyarakat:
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wacana bagi masyarakat mengenai proses komunikasi interpersonal dalam suatu hubungan persahabatan.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Pustaka
2.1.1. Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan oleh dua orang atau lebih yang mempunyai hubungan interpersonal. Hal ini senada dengan pernyataan Dev ito (1997) yang mendefinisikan komunikasi interpersonal sebagai tindakan, oleh dua orang atau lebih, yang mengirim dan menerima pesan yang terdistorsi oleh gangguan (noise), terjadi dalam suatu konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu, dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik (p.23). Dalam penelitian ini peneliti memfokuskan pada komunikasi interpersonal yang terjadi dalam konteks hubungan persahabatan.
Miller (1990) mendefinisikan komunikasi interpersonal sebagai akhir dari perkembangan komunikasi yang bersifat impersonal (tak pribadi) menjadi komunikasi interpersonal Devito,( 1997: 231). Dalam perkembangannya, komunikasi interpersonal dapat dibedakan dari komunikasi impersonal berdasarkan tiga faktor:
a. Prediksi berdasarkan data psikologi
Dalam interaksi interpersonal, seseorang bereaksi terhadap pihak lain berdasarkan data psikologis atau bagaimana orang ini berbeda dengan anggota-anggota kelompoknya, sedangkan dalam interaksi impersonal seseorang menanggapi pihak lain berdasarkan data sosiologis kelompok dimana orang tersebut menjadi anggotanya.
b. Pengetahuan yang menjelaskan (explanatory knowledge)
Dalam interaksi interpersonal, pihak-pihak yang terlibat mendasarkan komunikasi pada pengetahuan yang menjelaskan tentang masing-masing dari mereka. Dalam situasi interpersonal, seseorang tidak hanya menduga-duga bagaimana orang lain akan bertindak, tetapi juga menjelaskan perilakunya.
c. Aturan yang ditetapkan secara pribadi
Masyarakat menetapkan aturan-aturan interaksi dalam situasi hubungan impersonal, tetapi bila hubungan antara dua orang menjadi bersifat interpersonal, adat kebiasaan sosial menjadi tidak penting. Orang-orang tersebutlah yang menetapkan aturan.
Bentuk komunikasi interpersonal itu sendiri dapat dibagi menjadi dua, yakni komunikasi tidak media dan komunikasi media. Liliweri (1997:65) menyatakan bahwa komunikasi tidak media seringkali disebut sebagai komunikasi tatap muka, sedangkan komunikasi media adalah komunikasi yang dilakukan melalui media, antara lain melalui telepon, telepon selular, surat-menyurat, dan lain-lain.
Pentingnya situasi komunikasi interpersonal adalah karena prosesnya memungkinkan berlangsung secara dialogis. Komunikasi yang berlangsung secara dialogis selalu lebih baik daripada secara monologis Effendi ( 2003:60). Monolog menunjukkan suatu bentuk komunikasi dimana seseorang berbicara dan yang lain mendengarkan. Dengan demikian tidak terdapat interaksi. Sedangkan dialog adalah bentuk komunikasi interpersonal yang menunjukkan terjadinya interaksi.
2.1.2. Intensitas Komunikasi Interpersonal
Bentuk khusus dari komunikasi interpersonal ini adalah komunikasi diadik, yaitu komunikasi yang berlangsung diantara dua orang yang mempunyai hubungan interpersonal, seperti suami istri dan dua sahabat dekat. (Mulyana, 2001:73).
Oleh karena pelaku komunikasinya dua orang, maka dialog yang terjadi berlangsung secara intens. Intensitas itu sendiri dipengaruhi oleh jumlah waktu yang digunakan untuk melakukan komunikasi interpersonal. Jumlah waktu tersebut dapat diukur dengan tingkat ke seringan (frekuensi) dan durasi berkomunikasi antar para pelaku yang terlibat (Tubbs & Moss, 2000:200).
2.1.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Daya Tarik Interpersonal
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi seseorang untuk menjalin hubungan interpersonal. Rahmat (2002:114) menyatakan ada lima faktor yang mempengaruhi daya tarik interpersonal, yaitu:
a. Daya tarik fisik
Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa daya tarik fisik sering menjadi penyebab utama dalam daya tarik interpersonal. Orang cenderung lebih menyukai orang lain yang mempunyai penampilan fisik menarik. Namun De Vito, (1997:238) menambahkan bahwa daya tarik ini tidak terbatas pada daya tarik fisik saja, tetapi juga daya tarik kepribadian.
b. Ganjaran (reward)
Kita cenderung menyukai orang yang memberikan ganjaran kepada kita. Ganjaran tersebut dapat berupa bantuan, dorongan moral, atau hal-hal yang dapat meningkatkan harga diri kita. Hal ini sesuai dengan teori pertukaran sosial yang menyatakan bahwa interaksi sosial adalah semacam transaksi dagang.
c. Familiarity
Familiarity artinya sering dilihat atau sudah dikenal dengan baik. Robert. B Zojonc (1968), dalam Mulyana (2004:285) pernah melakukan penelitian tentang hal ini dan hasilnya makin sering subyek melihat wajah tertentu, ia makin menyukai.
d. Kedekatan (proximity)
Orang cenderung menyukai mereka yang tempat tinggalnya berdekatan. Faktor kedekatan ini berkaitan erat dengan faktor sebelumnya, yaitu familiarity.
e. Kemampuan (competence)
Seseorang cenderung menyukai orang-orang yang memiliki kemampuan lebih tinggi dari dirinya atau lebih berhasil dari kehidupannya.
Kelima faktor tersebut dapat dilengkapi dengan faktor-faktor yang dikemukakan oleh De Vito (1997), yaitu kesamaan dan sifat saling melengkapi. Pada umumnya orang akan lebih menyukai orang lain yang sama dengan dirinya, khususnya dalam hal kemampuan, karakter fisik, sikap dan selera. Sebaliknya, prinsip saling melengkapi (komplementaritas) meramalkan bahwa orang akan tertarik pada mereka yang tidak serupa dengan dirinya.
2.1.4. Komunikasi Interpersonal Dalam Hubungan Persahabatan
Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, komunikasi interpersonal terjadi dalam suatu konteks tertentu. Dalam penelitian ini penulis akan meneliti komunikasi interpersonal yang berlangsung dalam hubungan persahabatan. Persahabatan adalah salah satu bentuk hubungan interpersonal. Hubungan interpersonal berlangsung melalui beberapa tahap (DeVito, 1997:232). Tahap yang pertama adalah kontak. Menurut beberapa periset, selama tahap ini seseorang memutuskan apakah ingin melanjutkan hubungan atau tidak. Tahap kedua adalah tahap keterlibatan atau tahap pengenalan lebih jauh. Pada tahap ini seseorang meningkatkan diri untuk lebih mengenal orang lain dan dirinya sendiri.
Tahap selanjutnya adalah ke akraban. Pada tahap ini orang akan meningkatkan diri lebih jauh pada orang lain dan mungkin akan terbina hubungan primer (primary relationship), seperti persahabatan atau hubungan romantis.
Hal ini senada dengan apa yang dikemukakan oleh Duck (1976), Bythe (1971), Rawlins (1959), Argyle & Furnham (1983), Sillars & Scott (1983), serta Olson & Cromwel (1975) bahwa ada tahapan dalam hubungan interpersonal dalam Liliweri, (1997:54). Tahapan yang pertama adalah perkenalan. Dalam tahapan ini hubungan interpersonal dikategorikan sebagai kenalan, karena jenis hubungan seperti ini sangat terbatas pada pertukaran informasi. Dua pribadi tidak terlibat dalam cerita-cerita yang bersifat pribadi, apalagi menukar informasi pribadi.
Setelah tahap perkenalan adalah tahap persahabatan. Dibandingkan dengan hubungan pribadi, persahabatan dianggap lebih dekat daripada sekadar kenalan, meskipun dalam persahabatan atau hubungan antar kenalan terdapat tingkat keintiman yang berbeda-beda. Seorang sahabat merupakan orang yang mempunyai kedudukan tertentu dalam hubungan interpersonal. Seseorang akan menempatkan orang lain menjadi sahabat karena mengenal orang tersebut dengan baik. Kita percaya dan menaruh harapan kepada dia sebagai seseorang yang mempunyai perhatian terhadap kita (Liliweri,1997:55). Hal yang sama juga diungkapkan oleh Rahmat (2002:85) yang menyatakan bahwa persahabatan melibatkan rasa percaya terhadap orang lain.
Persahabatan itu sendiri adalah hubungan yang lebih dari sekedar teman biasa, yang ditandai oleh adanya ke akraban, kepercayaan, kejujuran, keseimbangan dan ke sejajar kedudukan. Dalam persahabatan, pelaku-pelakunya akan terlibat dalam proses pertukaran informasi dan cerita-cerita yang bersifat pribadi (Liliweri, 1997:53-54).
Bila dua orang sahabat, mereka memiliki identitas. Identitas tersebut bermakna bila mereka berada bersama atau bila mereka saling memperhatikan Viscott, (1992:93), dalam Rahmat (2002:195) Kejujuran juga memegang peranan penting dalam suatu hubungan persahabatan. Satu prinsip umum yang harus dijaga dalam persahabatan, yaitu keseimbangan dan ke sejajar kedudukan. Persahabatan menghendaki agar dua pihak, komunikator dan komunikan harus merasa mempunyai kedudukan yang sama, tidak ada yang lebih tinggi daripada yang lain.
Argyle dan Henderson (1984), dalam Rahmat (2002:195) mengemukakan bahwa persahabatan mempunyai beberapa fungsi, yaitu: membagi pengalaman agar dua pihak merasa sama-sama puas dan sukses, menunjukkan dukungan emosional, sukarela membantu jika diperlukan pihak yang lain, berusaha membuat pihak lain merasa senang, dan membantu sesama jika dia berhalangan untuk sesuatu urusan.
Nilai yang terdapat dalam persahabatan seringkali apa yang dihasilkan ketika seorang sahabat memperlihatkan secara konsisten:
1) kecenderungan untuk menginginkan apa yang terbaik bagi satu sama lain.
2) simpati dan empati.
3) kejujuran, barangkali dalam keadaan-keadaan yang sulit bagi orang lain untuk mengucapkan kebenaran.
4) saling pengertian (http://id.wikipedia.org/wiki/Persahabatan).
Jika persahabatan sudah diciptakan, maka persahabatan tersebut dapat ditingkatkan lagi menjadi lebih akrab dan intim. Memang sukar untuk merumuskan syarat-syarat yang harus dipenuhi agar seseorang dapat menjadi seorang sahabat akrab. Namun dapat dirasakan bahwa seorang sahabat akrab adalah orang yang mempunyai hubungan mendalam dengan kita. Sillars dan Scott (1983) mengemukakan pendapat mereka bahwa hubungan interpersonal yang intim disebabkan oleh interaksi yang berulang-ulang dengan derajat kebebasan dan keterbukaan yang sangat tinggi.
Komunikasi yang berlangsung dalam hubungan interpersonal, dimana dalam hal ini hubungan persahabatan, berbeda-beda dalam hal ke luasan (breadth), dan kedalaman (depth) (Tubbs & Moss, 2000:201). Ke luasan menunjukkan variasi topik yang dikomunikasikan. Sedangkan kedalaman merujuk pada ke intiman apa yang dikomunikasikan. Ke intiman yang dikomunikasikan dapat dilihat dari kualitas-kualitas yang menyertai komunikasi interpersonal dalam hubungan persahabatan.
Bochner & Kelly menyatakan ada lima kualitas umum yang menyertai komunikasi interpersonal dalam hubungan persahabatan, yaitu (De Vito, 1997:259):
a. Keterbukaan (openness)
Kualitas keterbukaan mengacu pada sedikitnya tiga aspek dari komunikasi interpersonal. Pertama komunikator dalam komunikasi interpersonal harus terbuka kepada orang yang diajak berinteraksi. Dalam hal ini yang bertindak sebagai komunikator dan orang yang diajak berinteraksi adalah para masyarakat yang terlibat dalam ikatan persahabatan itu sendiri. Aspek keterbukaan yang kedua mengacu pada kesediaan komunikator untuk bereaksi secara jujur terhadap stimulus yang datang. Aspek ketiga adalah menyangkut “kepemilikan” perasaan dan pikiran (Bochner & Kelly, 1974). Terbuka dalam pengertian ini adalah mengakui bahwa perasaan dan pikiran yang dilontarkan komunikator adalah memang miliknya dan ia bertanggung jawab atasnya.
b. Empati (empathy)
Henry Backrack mendefinisikan empati sebagai kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang dan melalui kacamata orang lain tersebut. Berempati adalah merasakan sesuatu seperti orang lain yang mengalaminya, berada di tempat yang sama dan merasakan perasaan yang sama dengan cara yang sama. Untuk dapat berempati kita harus memahami keinginan, pengalaman, dan kemampuan orang lain. Orang yang empatik mampu memahami motivasi dan pengalaman orang lain, perasaan dan sikap mereka, serta harapan dan keinginan mereka untuk masa mendatang.
c. Dukungan (supportiveness)
Komunikasi yang terbuka dan empati tidak dapat berlangsung dalam suasana yang tidak mendukung. Kita dapat memperlihatkan sikap mendukung dengan bersikap deskriptif, spontan dan profesional. Deskriptif berarti menyampaikan perasaan dan persepsi tanpa menilai. Bersikap spontan berarti bersikap jujur dan terbuka dalam berkomunikasi. Sedangkan profesionalis berarti bersikap tentatif dan berpikiran terbuka serta bersedia mendengar pandangan yang berlawanan dan bersedia mengubah posisi jika keadaan mengharuskan.
d. Perasaan positif (positive-ness)
Sedikitnya ada dua cara untuk mengkomunikasikan sikap positif dalam komunikasi interpersonal, yaitu menyatakan sikap positif dari diri sendiri dan kemudian membawanya dalam interaksi dengan orang lain sehingga tercipta suasana yang positif (menyenangkan) dalam berkomunikasi.
e. Kesamaan (equality)
Kesamaan adalah keseimbangan kedudukan antara pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi. Pihak-pihak yang berkomunikasi sama-sama bernilai dan berharga serta mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan.
Rahmat, (2002:129) menyatakan bahwa diperlukan tiga hal dalam berkomunikasi sehingga dapat menumbuhkan hubungan interpersonal yang baik, yaitu:
a. Percaya (trust)
Di antara berbagai faktor dalam komunikasi interpersonal, faktor percaya adalah faktor yang paling penting. Secara ilmiah Giffin, (2000) mendefinisikan percaya sebagai mengandalkan perilaku orang lain untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, dimana pencapaiannya tidak pasti dan dalam situasi yang penuh resiko.
Definisi ini menyebutkan tiga unsur percaya, yaitu ada situasi yang menimbulkan resiko, orang yang menaruh kepercayaan kepada orang lain berarti menyadari bahwa akibat-akibatnya bergantung pada orang lain. Yang terakhir adalah orang tersebut yakin bahwa perilaku orang lain akan berakibat baik baginya.
Ada dua keuntungan jika kita percaya pada orang lain. Pertama, percaya akan meningkatkan komunikasi interpersonal karena membuka saluran komunikasi, memperjelas pengiriman dan penerimaan informasi, serta memperluas peluang komunikan untuk mencapai maksudnya. Kedua, hilangnya kepercayaan kepada orang lain akan menghambat perkembangan hubungan interpersonal yang akrab. Ke akraban hanya terjadi bila pihak-pihak yang terlibat bersedia untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya.
Ada tiga faktor yang dapat mengembangkan komunikasi yang didasarkan pada sikap percaya, yaitu menerima, empati dan kejujuran. Menerima adalah kemampuan berhubungan dengan orang lain tanpa menilai dan tanpa berusaha mengendalikan. Menerima adalah sikap yang melihat orang lain sebagai manusia, sebagai individu yang patut dihargai.
Faktor yang kedua, empati dianggap sebagai memahami orang lain yang tidak mempunyai arti emosional bagi kita. Dengan kata lain empati berarti membayangkan diri kita pada kejadian yang menimpa orang lain. Dengan empati kita berusaha melihat seperti orang lain melihat dan merasakan seperti orang lain merasakannya. Faktor yang terakhir adalah kejujuran. Sikap percaya akan berkembang jika setiap komunikan menganggap komunikan lainnya berlaku jujur. Kejujuran menyebabkan perilaku kita dapat diduga (predictable).
b. Sikap suportif
Sikap suportif adalah sikap yang mengurangi sikap defensif dalam komunikasi. Orang bersikap defensif jika ia tidak menerima, tidak jujur, dan tidak empatik. Gibb (1961), dalam Rahmat (2002:177) menyebutkan enam perilaku yang menimbulkan sikap suportif. Yang pertama adalah deskripsi, yaitu penyampaian pesan atau perasaan tanpa menilai. Deskripsi dapat juga terjadi ketika kita mengevaluasi gagasan orang lain, tetapi orang merasa bahwa kita menghargai mereka.
Perilaku suportif yang kedua adalah orientasi masalah. Dalam orientasi masalah, kita tidak mendiktekan pemecahan, melainkan mengajak orang lain bersama-sama untuk menetapkan tujuan dan memutuskan bagaimana mencapainya. Yang ketiga adalah spontanitas. Spontanitas artinya sikap jujur dan dianggap tidak mempunyai motif terpendam.
Perilaku berikutnya adalah empati dan diikuti dengan persamaan. Persamaan adalah sikap memperlakukan orang lain secara horizontal dan demokratis. Dengan persamaan, kita mengkomunikasikan penghargaan dan rasa hormat pada perbedaan pandangan dan keyakinan.
Perilaku suportif yang terakhir adalah provinsionalisme, yaitu kesediaan untuk meninjau kembali pendapat kita, untuk mengakui bahwa pendapat manusia adalah tempat kesalahan. Oleh karena itu wajar jika suatu saat pendapat atau ke yakinanan dapat berubah.
c. Sikap terbuka
Sikap terbuka mempunyai pengaruh yang besar dalam komunikasi interpersonal. Sikap terbuka ini ditandai dengan menilai pesan secara objektif, melihat pada suasana yang mempengaruhi, bersifat provisional dan bersedia mengubah kepercayaannya.
2.1.5. Teori Analisis Transaksi
Teori analisis transaksi merupakan karya besar Eric Berne (1964), dalam Griffin (2000) yang di tulis dalam buku Games People Play. Kata transaksi selalu mengacu pada proses pertukaran dalam suatu hubungan. Transaksi selalu ada dalam proses komunikasi antarpersonal. Yang dipertukarkan adalah pesan-pesan baik verbal maupun nonverbal. Analisis transaksional sebenarnya ber¬tujuan untuk mengkaji secara mendalam proses transaksi (siapa-¬siapa yang terlibat di dalamnya dan pesan apa yang dipertukarkan).
Dalam konteks komunikasi, Analisis Transaksional (AT) dapat diartikan sebagai upaya mengurai secara sistematis proses pertukaran pesan yang bersifat timbal balik di antara pelaku komunikasi yang kesemuanya merupakan cerminan struktur kepribadian seseorang. AT dapat diartikan sebagai cara untuk memahami perilaku diri sendiri dan orang lain dengan menganalisis transaksi atau interaksi yang tenjadi antarindividu. Lewat AT maka akan diketahui apa yang sesungguhnya terjadi dalam diri individu ketika berkomunikasi dengan orang lain? apa yang terjadi di antara orang ketika berkomunikasi? Dan Bagaimana kita dapat mengidentifikasi, memahami, dan mengendalikan aspek-aspek yang terkait dengan komunikasi yang sedang berlangsung tersebut. Dengan demikian maka Transaksi (atau komunikasi)–sebagaimana dikatakan Berne, merupakan unit dasar dalam hubungan sosial (Transaction is the fundamental unit of social intercourse). (Venus, 2005:315)
Transaksi terjadi ketika dua orang atau lebih bertemu, misalnya meraka akan saling menyapa atau membuka perbincangan. Transaksi ini berlangsung dalam sebuah suasana di mana masing-masing partisipan komunikasi memberikan stimulus sekaligus juga merespon stimulus. AT bisa dianggap sebagai metode yang mengamati sebuah transaksi atau peristiwa komunikasi di mana seseorang melakukan sesuatu pada yang lain, dan yang lain memberikan balasan terhadap tindakan orang itu. (Santoso & Setiansah, 2010: 36-37)
Berne juga mengemukakan terdapat beberapa faktor yang menghambat terlaksananya transaksi antar pribadi, atau keseim¬bangan ego sebagai sikap yang dimiliki seseorang itu. Terdapat dua hambatan utama yaitu:
1. Kontaminasi (contamination). Kontaminasi merupakan pengaruh yang kuat dari salah satu sikap atau lebih terhadap seseorang sehingga orang itu “berkurang” keseimbangannya.
2. Eksklusif (exclusive); penguasaan salah satu sikap atau lebih terlalu lama pada diri seseorang. Misalnya sikap orang tua yang sangat mempengaruhi seseorang dalam satu waktu yang lama sehingga orang itu terus menerus memberikan nasihat, melarang perbuatan tertentu, mendorong dan menghardik. (http://mubarok-institute.blogspot.com)
2.2. Kerangka Pemikiran
Berdasarkan rumusan masalah yang telah ditetapkan maka dalam kerangka pikir ini teori analisis transaksi merupakan teori yang tepat untuk membedah pokok permasalahan penelitian ini yakni sejauh mana pengaruh komunikasi interpersonal dalam hubungan persahabatan masyarakat. Menurut teori analisis transaksi, hubungan antar manusia (interpersonal) itu berlangsung mengikuti kaidah transaksi, yaitu apakah masing-masing merasa memperoleh keuntungan dalam transaksi atau malah merugikan. Jika merasa memperoleh keuntungan maka hubungan itu pasti mulus, tetapi jika merasa rugi maka hubungan itu akan terganggu , putus, atau bahkan berubah menjadi permusuhan.
Komunikasi interpersonal adalah tindakan oleh dua orang atau lebih, yang mengirim dan menerima pesan yang terdistorsi oleh gangguan (noise), terjadi dalam suatu konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu, dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik De Vito, (1997:23). Bentuk khusus dari komunikasi interpersonal ini adalah komunikasi di adik, yaitu komunikasi yang berlangsung di antara dua orang yang mempunyai hubungan interpersonal, seperti dua orang sahabat dekat Mulyana, (2001:73). Dalam hal ini komunikasi interpersonal terjadi dalam hubungan persahabatan.
Hubungan persahabatan adalah hubungan interpersonal yang terbentuk melalui beberapa tahap. Seorang sahabat merupakan orang yang mempunyai kedudukan tertentu dalam hubungan interpersonal. Seseorang akan menempatkan orang lain menjadi sahabat karena mengenal orang tersebut dengan baik. Hubungan persahabatan ditandai dengan adanya rasa percaya dan kejujuran antara pihak-pihak yang terlibat, serta adanya keseimbangan dan ke sejajar kedudukan.
Oleh karena pelaku komunikasi dua orang maka dialog yang terjadi berlangsung secara intens Effendi, (2003:62). Intensitas itu sendiri dipengaruhi oleh jumlah waktu yang digunakan untuk melakukan komunikasi interpersonal. Jumlah waktu tersebut dapat diukur dengan tingkat seringan (frekuensi) dan durasi berkomunikasi antar para pelaku yang terlibat Rahmat, (2004:66). Komunikasi yang berlangsung dalam hubungan interpersonal, dimana dalam hal ini hubungan persahabatan, berbeda-beda dalam hal keluasan (breadth) dan kedalaman (depth) Tubbs & Moss, (2000:201). Keluasan menunjukkan variasi topik yang dikomunikasikan. Sedangkan kedalaman merujuk pada ke intimnan apa yang dikomunikasikan. Ke intimnan yang dikomunikasikan dapat dilihat dari kualitas-kualitas yang menyertai komunikasi interpersonal dalam hubungan persahabatan, seperti adanya rasa percaya, empati, dukungan, dan sikap positif.
Dari keseluruhan uraian di atas dapat dirangkum dalam model paradigma kerangka pikir berikut ini:
Gambar Bagan Kerangka Pikir
Gambar1. Kerangka pikir (modifikasi penulis)
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Kelurahan Bang kudu Kabupaten Buton Utara dengan pertimbangan dari pengamatan awal yang dilakukan, peneliti menemukan adanya kecenderungan bahwa persahabatan masyarakat di Kelurahan Bang kudu Kabupaten Buton Utara hanya sebatas hubungan formal, yaitu hubungan yang dibentuk hanya sekedar untuk mempermudah masyarakat di Kelurahan Bang kudu.
3.2 Populasi dan Sampel
3.2.1 Populasi
Populasi penelitian ini adalah seluruh masyarakat di Kelurahan bang kudu Kabupaten Buton Utara yang terdaftar dan tercatat pada data demografi Kelurahan tahun 2011 sebanyak 450 KK.
Tabel 3.1 Jumlah Masyarakat Kelurahan Bangkudu
No. Lingkungan Warga Jumlah Masyarakat
1. Lingkungan I 80
2. Lingkungan II 150
3. Lingkungan III 120
4. Lingkungan IV 100
Jumlah 450
Sumber: Kelurahan Bang kudu Kabupaten Buton Utara (Oktober 2011)
3.2.2 Sampel
Adapun sampel dalam penelitian ini diambil dari setiap lingkungan yang ada ditentukan dengan menggunakan teknik Random Sampling, yaitu pengambilan sampel secara proporsional tidak strata dengan menggunakan perwakilan berimbang. Adapun besarnya sampel minimal dari tiap angkatan ditetapkan sebesar 15% dari populasi. Berikut cara penghitungan besarnya sampel dengan menggunakan teknik Random Sampling
Tabel 3.2 Jumlah Sampel
No Lingkungan Jumlah Populasi Sampel (15%)
1. I 80 12
2. II 150 23
3. III 120 18
4. IV 100 15
Jumlah 450 68
Jadi, jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 68 orang
3.3 Variabel Penelitian
Penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu intensitas komunikasi interpersonal (X) dan hubungan persahabatan masyarakat (Y).
Tabel 3.3 Variabel, Dimensi (Sub Variabel), dan Indikator
Variabel Dimensi (Sub Variabel) Indikator
Intensitas Komunikasi Interpersonal (X) 1. Secara
tatap muka a. Frekuensi komunikasi tatap muka
b. Durasi komunikasi tatap muka
2. Melalui media (telepon/SMS) a. Frekuensi komunikasi melalui media (telepon/SMS)
b. Durasi komunikasi melalui media (telepon/SMS)
c. Jumlah SMS yang dikirim
Hubungan Antar Warga masyarakat (Y) 1. Rasa percaya a. Tingkat kepercayaan
2. Empati b. Kemampuan menyesuaikan/menempatkan diri
3. Dukungan c. Bentuk dukungan
4. Sikap positif d. Sikap saling menghargai
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Observasi
Observasi yaitu pengamatan, pencatatan secara sistematis terhadap intensitas komunikasi interpersonal masyarakat Kelurahan Bang kudu dalam menjalin hubungan persahabatan. Observasi dilakukan secara langsung di lingkungan Kelurahan Bang kudu Kabupaten Buton Utara untuk memperoleh data tentang hal-hal yang berhubungan dengan penelitian ini.
2. Kuesioner
Kuesioner yaitu kumpulan pertanyaan yang disusun secara sistematis dalam sebuah daftar pertanyaan, kemudian diberikan kepada responden untuk diisi. Setelah diisi, Kemudian dikembalikan kepada peneliti.
Jenis angket yang digunakan adalah angket langsung tertutup. Angket langsung tertutup adalah angket yang dirancang sedemikian rupa untuk memperoleh data tentang keadaan yang dialami oleh responden sendiri, kemudian semua alternatif jawaban yang harus dijawab
responden telah tertera dalam angket tersebut.
3.5 Jenis dan Sumber Data
Jenis Data dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Sedangkan sumber data adalah primer dan sekunder. Data Kuantitatif yaitu data diperoleh di lokasi penelitian dalam bentuk angka atau jumlah, misalnya data tentang jumlah masyarakat dan lain sebagainya. Serta data kualitatif berdasarkan bahan informasi atau temuan dari objek yang diteliti dan diperoleh dari hasil wawancara dengan informan.
3.6 Teknik Analisis Data
Data yang dikumpulkan akan diolah dengan analisis Deskriptif kuantitatif, yaitu analisis dilakukan terhadap data responden dengan tujuan untuk menjawab pertanyaan.
3.7. Definisi Operasional Variabel
Untuk memudahkan pemahaman terhadap permasalahan maka penulis memberi batasan operasional terhadap variabel penelitian yang akan diteliti yaitu:
1. Komunikasi interpersonal adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan oleh dua orang atau lebih yang mempunyai hubungan interpersonal. Bentuk komunikasi interpersonal itu sendiri dapat dibagi menjadi dua, yakni komunikasi tidak media dan komunikasi tidak media. Komunikasi tidak media seringkali disebut sebagai komunikasi tatap muka, sedangkan komunikasi tidak media adalah komunikasi yang dilakukan melalui media, antara lain melalui telepon, telepon selular, dan SMS.
2. Intensitas komunikasi interpersonal adalah jumlah waktu yang digunakan untuk melakukan komunikasi interpersonal. Jumlah waktu tersebut dapat diukur dengan tingkat ke seringan (frekuensi) dan durasi berkomunikasi antar para pelaku yang terlibat.
3. Hubungan persahabatan adalah hubungan interpersonal yang terbentuk melalui beberapa tahap. Seorang sahabat merupakan orang yang mempunyai kedudukan tertentu dalam hubungan interpersonal. Persahabatan itu sendiri adalah hubungan yang lebih dari sekedar teman biasa, yang ditandai oleh adanya sikap akrab, kepercayaan, kejujuran, keseimbangan dan sejajar kedudukan. Dalam persahabatan, pelaku-pelakunya akan terlibat dalam proses pertukaran informasi dan cerita-cerita yang bersifat pribadi.
4. Rasa percaya yaitu mengandalkan perilaku orang lain untuk mencapai tujuan yang dikehendaki dimana orang tersebut yakin bahwa perilaku orang lain akan berakibat baik baginya.
5. Eompati yaitu kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang atau “kacamata” orang lain tersebut, mampu merasakan sesuatu seperti orang lain yang mengalami, berada di tempat yang sama dan merasakan perasaan yang sama dengan cara yang sama.
6. Dukungan yaitu ditunjukkan dengan bersikap deskriptif, spontan dan profesional. Deskriptif berarti menyampaikan perasaan dan persepsi tanpa menilai. Bersikap spontan berarti bersikap jujur dan terbuka dalam berkomunikasi. Sedangkan profesionalisme berarti bersikap tentatif dan berpikiran terbuka serta bersedia mendengar pandangan yang berlawanan dan bersedia mengubah posisi jika keadaan mengharuskan.
7. Sikap positif yaitu diwujudkan dengan memberikan suatu sikap dorongan dengan menunjukkan sikap menghargai keberadaan, pendapat dan pentingnya orang lain, dimana perilaku ini sangat bertentangan dengan sikap ketidak acuan.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. Edisi revisi ke-4. Jakarta : Rineka Cipta.
Azwar, Saifuddin. 2000. Sikap Manusia : Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta Pustaka, Pelajar.
Cangara, Hafied. 2005. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Rajawali Pers
De Vito, JA. 1997. The interpersonal communication. Edition. New York Harper and Row Publisher
De Vito, Joseph. 1997. The Interpersonal Communication.Book Harpers Row: New York
Djamarah, S. Bahri. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Effendy, Onong. U, 2003. Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi. Bandung: Citra Aditya Bakti
Gerungan, W. A. 1991. Psikologi Sosial. Bandung : Eresco.
Griffin, AM, 2000, The First Look of Communication, Building Communication Theories, Newyork, Harpers Row.
Guhardja, S. dkk. 1992. Diktat manajemen sumber daya keluarga. Jurusan GMSK IPB
Gunadi, YS. 1998. Himpunan Istilah Komunikasi. Jakarta:PT.Grasindo
Hardjana, Andre. 2000. Audit Komuikasi, Teori dan Praktek. Jakarta: PT. Grasindo
Ibrahim. 1994. Panduan Penelitian Etnografi Komunikasi. Surabaya: Usaha Nasional.
Liliweri, Alo. 1997.Komunikasi Antar Pribadi. Bandung: Citra Aditya Bakti
----------1994. Perspektif Teoritis, Komunikasi Antarpribadi (Suatu Pendekatan Ke Arah Psikologi Sosial Komunikasi). Bandung : Citra Aditya bakti.
Marhaeni, Dwi Pangastuti. 1996. Hubungan pola komunikasi suami istri dengan prestasi anak. Tesis UI
Moleong, L.J. 1991. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mueller, Danniel J. 1986. Mengukur Sikap-sikap Sosial : Buku Pegangan Bagi Para ahli Riset Dan Pekerja Lapangan. New York : Teachers College Press.
Mulyana, Deddy. 2001 . Metodologi Penelitian Kualitatif : Paradigma Baru Rmu
Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung : Remaja Rosdakarya.
----------- 2003. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosda Karya
------------ 2004. Komunikasi Efektif : Suatu Pendekatan Lintas Budaya. Bandung PT Remaja Rosdakarya
Nasir, Mohammad. 1988. Metode penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia
Noor, Faried Ma'ruf 1983. Menuju keluarga sejahtera dan bahagia. Bandung. PT Alma' arif
Rakhmat, Jalaluddin.2002. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remadja Karya.
------------ 1986. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung : Remadja Karya.
Santoso. E dan Setiansyah, 2010: Teori Komunikasi, Yogyakarka.
Sendjaja S. Djuarsa. 1994. Teori Komunikasi. Jakarta: Universitas Terbuka
Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi. 1989. Metode Penelitian Survey. Jakarta : LP3ES.
Tubbs & Moss, 2000 : Communication Theories Paradigm & Theory; Newyor, McGraghill.
Venus. A, 2005; Manajemen Kampanye, Bandung; Simbiosa Rekatama Media.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar