Jumat, 01 Juni 2012
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Morfologi
Definisi morfologi telah banyak dikemukakan oleh para pakar bahasa atau para linguis. Ba aik linguis aliran struktural maupun aliran transformasional. Meskipun begitu, apabila kita perhatikan definisi yang telah mereka kemukakan tidak bertentanngan antara satu dengan yang lain, bahkan saling melengkapi. Definisi-definisi itu dapat dikemukakan pada bagian berikut ini.
Morfologi adalah bagian daripada tatabahasa yang membicarakan bentuk kata (Keraf :1978:45). Alwasilah (1990:101) member batasan bahwa morfologi adalah bagian linguistic yang mempelajari dan mengalisis struktur, bentuk dan klasifikasi kata-kata. Ramlan (1987:21) berpendapat bahwa morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau mempelajari seluk-beluk kata terhadap golongan dan arti kata atau dengan kata lain. Morfologi mempelajari seluk-beluk kata serta fungsi-fungsi perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatikal maupun fungsi semantik.
Berdasarkan definisi-definisi diatas dapat ditarik sutu kesimpulan bahwa morfologi adalah salah satu cabang ilmu bahasa yang mempelajari tentang seluk-beluk kata. Untuk menentukan suatu kata termasuk verba, di gunakan valensi sintasis karena perangkat kategori pembangun kerangka sistem morfologi verba itu di tandai oleh valensi sintaksis yang ama, yaitu mempunyai potensi berkombinasi dengan kata, tidak, sudah, sedang, akan, baru, telah, belum, mau, hendak.
2.2 Morfem
Dalam tatabahasa Indonesia dan di dalam buku-buku linguistik, morfem mendapat perhatian dari linguis. Keraf(1978:55) member batasan bahwa “morfem adalahkesatuan yang ikut serta dalam pembentukan kata dan dapat dibedakan artinya”, Menurut Badudu (1982:32) mengemukakan bahwa morfem adalah satuan gramatikal yang tidak mempunyai satuan lain sebagai usulnya.
Hockett (dalam Parare, (1980:21) mengemukakan bahwa morfem adalah unsure-unsur yang terkecil yang masing-masing mempunyai makna dalam tutur sebuah bahasa. Bila kita cermati definisi-definisi tentang morfem diatas, dapat disinpulkan bahwa morfem itu sendiri mengandung sekurang-kurangnya ada tiga hal yang menjadi pokok pikiran utama yakni: (a) satuan bahasa atau satuan linguistik, (b) unsure yang terkecil; artinya sebuah unsure tdak dapat lagi dibagi lagi atas unsur-unsurnya, (c) mengandung makna. Ketiga komponen ini saling melengkapi; artinya bila salah satu komponennya tidak terpenuhi, maka sebuah kontruksi tidak dapat disebut morfem.
Sebagai buktinya dapat kita amati ilustrasinya berikut ini:
(a) Berkata (b) rumah
Manakah ke dua di antara kontrntuksi ini yang tergolong mofem? U ntuk menjawab pertanyaan itu dengan benar, kita harus menerapkan konsep morfem yakni terdiri atas tiga komponen, (a) satuan bahasa, (b) terkecil, (c) bermakna. Sekarang kita lontarkan pertanyaan, apakah berkata merupakan satuan bahasa? Jawabanya, ya! Apakah bekata merupakan bentuk yang terkecil? Jawabanya, tidak! Jika demikian, bentuk berkata masih dapat dikecilkan. Kita berahli pada bentuk rumah, apakah rumah merupakan satuan bahasa? Jawabanya, ya! Apakah bentuk rumah masih dapat dikecilkan? Jawabanya, tidak! Jika demikian rumah tergolong morfem.
Dari sisi bentuknya, morfem terbagi atas morfem bebas dan morfem terikat.Morfem bebas adalah morfem berupa kata memiliki kebebasan dalam ujaran, tidak terikat oleh morfem lain, dan memiliki makna leksikal. Morfem rumah misalnya, memiliki kebebasan dalam ujaran, boleh diposisi awal, diposisi tengah, atau posis akhir uajaran. Juga morfem rumah memiliki makna tanpa di didukung oleh morfem lain.
2.2.1 Identifikasi Morfem
Untuk menentukan sebuah satuan bentuk adalah morfem atau bukan, kita harus membandingkan bentuk tersebut di dalam kehadiranya dengan bentuk-bentuk lain. Kalau bentuk tersebut ternyata bias hadir secara berulang-ulang dengan bentuk lain, maka bentuk tersebut adalah sebuah morfem. Sebagai contoh kita ambil bentuk/ ke dua/, dalam ujaran diatas ternyata bentuk /ke dua/ dapat kita bandingkan dengan bentuk-bentuk sebagai beriku
ke dua
ketiga
kedelapan
kelima
ketujuh
kesembilan
keseblas
Ternyata juga semua bentuk ke-pada daftar diatas dapat di segmentasikan sebagai satuan tersendiri dan yang mempunyai makna yang sama, yaitu menyatakan tingkat atau derajat. Dengan demikian bentuk ke-pada dafar diatas, karena merupakan bentuk terkecil yang berulang-ulang dan mempunyai makna yang sama, bias disebut sebagai sebuah morfem.
Ada juga bektuk ke-pada contoh lain yang mempunyai arti yang bebeda.Misalnya:
Ke pasar
Ke kampus
Ke dapur
Ke mesjid
Ke alan-alan
Ke terminal
Ternyata juga bentuk ke-pada daftar diatas dapat disegmentasikan sebagi satuan tersendiri dan juga mempunyai arti yang sama, yaitu menyakan arah atau tujuan. Dengan demikian ke-pada daftar tersebut juga adalah sebuah sebuah morfem.
Untuk menentukan sebuah bentuk adalah morfem atau bukan harus mengetahui atau mengenal maknanya.
Melantarkan
Telantar
Lantaran
Meskipun bentuk lantar terdapat berulang-ulang pada daftar tersebut, tetapi bentuk lantar itu bukanlah sebuah morfem karena tidak ada maknanya, kalau bentuk melantarkan memang punya hubungan dengan telantar, tetapi tidak punya hubungan dengan lantaran. Dalam studi morfologi suatu satuan bentuk yang berstatus sebagai morfem, biasanya di lambangkan dengan mengopitnya diantara kurung kurawal. Misalnya, kata Indonesia masjid di lambangkang sebagai {masjidi}: kata ke dua di lambangkan menjadi {ke} + {dua}, atau bias juga ({ke-}+{dua}). Selama morfem itu merupakan morfem segmental hal itu mudah dilakukan.
2.2.2 Klasifikasi Morfem
Morfem-morfem dalam setiap bahasa dapat di klasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria. Antara lain bedasarkan kebebasanya, keutuhanya, maknanya, dan sebagainya.
Morfem Bebas dan Morfem Terikat
Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam penuturan. Dalam bahasa Indonesia misalnya, bentuk pulang, makan, rumah dan bagus adalah termasuk morfem bebas. Morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam penuturan. Semua afiks dalam bahasa Indonesia adalah morfem terikat.Berkenaan dengan morfem terikat dalam bahasa Indonesia, ada beberapa hal yang perlu dikemukakan.
1.Bentuk seperti juang, henti, gaul, daan baur juga termasuk morfem terikat, karena bentuk tersebut meskipun bukan afiks, tidak dapat muncul dalam penuturan tanpa lebih dahulumengalami proses morfologi, afiksasi, redulikasi dan komposisi.Bentuk-bentuk seperti ini lazim disebut bentuk prakategorial.
2.Menurut konsep verhaar(1978) bentuk-bentuk seperti baca, tulis tendang juga termasuk bentuk prakategorial, karena bentuk-bentuk tersebut baru merupakan “pangkal” kata. Sehingga baru muncul dalam pertuturan sesudah mengalami proses morfologi. Misalnya
• Tulis namamu disini
• Baca keras-keras
• Tendang kuat-kuat
3.Bentuk –bentuk seperti renta(yang hanya muncul dalam tua renta), kerantang (yang hanya muncul dalam kering kerantang), dan bugar (yang hanya muncul dalam segar bugar) dan juga termasuk morfem terikat. Karena hanya bias muncul dalam pasangan tertent, maka bentuk-bentuk tesebut disebut juga morfem unik.
Morfem Utuh dan Morfem Terbagi
Semua morfem dasar bebas adalah termasuk morfem utuh, Seperti, (meja), (kursi), (klecil), (laut), dan (pensil). Begitu juga dengan sebagian morfem terikat, seperti, (ter), (ber), (henti), dan (juang). Sedangkan morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua buah bagian yang terpisah. Umpamanya pada kata Indonesia kesatuan terdapat satu morfem utuh yaitu, (satu) dan satu morfem terbagi, yakni( ke, -an) kata perbuatan terdiri dari satu morfem utuh, yaitu,(buat) dan satu morfem terbagi , yaitu (ber-an)
Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal (stem), dan Akar (root)
Morfem dasar, bentuk dasar, pangkal (stem) dan akar(root) adalah empat istilah yang bisa digunakandalam kajian morfologi namun, seringkali digunakan dngan pengertian yang kurang cermat atau malah berbeda. Istilah morfem dasar biasanya digunakan ikatomi dengan morfem afiks. bebas
Dasar terikat
Morfem afiksasi
Sebuah morfem dasar dapat menjadi ebuah bentuk dasar atau dasar (base) dalam suatu proses morfologi. Artinya, bisa diberi afiks tertentu dalam proses afiks, bisa diulang dalam suatu proses reduplikasi, atau bisa digabung dengan morfem lain dalam suatu proses komposisi. Istilah bentuk dasar atau dasar (base) saja biasanya digunakan untuk menyebut sebuah bentuk yang menjadi dasar dalam suatu proses morfologi. Bentuk dasar ini dapat berupa morfem tunggal tetapi dapat juga berupa gabungan morfem.Istilah pangkal (stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infeksi, atau proses pembubuhan afiks infleksi. Contoh padakata books, pangkalnya adalah book. Dalam bahasa Indonesia kata menangis bentuk pangkalny adalah tangisi dan morfem me- adalah sebuah afiks inflektif.Akar (root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tudak dapat di analisis lebih jauh lagi. Artinya akar itu adalah bentuk yang tersisa setelah semua afiksnya, baik afiks infleksional maupun afiks derivasinalnya ditinggalkan.
2.2.3 Pembentukan Kata
Untuk dapat digunakan di dalam kalimat atau pertuturan tertentu, maka setiap bentuk dasar, terutama dalam bahasa fleksi dan aglutunasi, harus dibentuk lebih dahulu menjadi sebuah kata gramatikal, baik melalui proses afiksasi, proses reduplikasi, maupun proses komposisi.Misalnya untuk kontruksi kalimat nenek…komik itu dikamar hanya bentuk kata berprefiks me- yang dapat digunakan menjadi predikat dalam kalimat itu….nenek di kamar hanya kata berprefiks di- yang dapat digunakan. Begitu juga untuk kontruksi kalimat….itu berlangsung di gedung kesenian hanya nomina berkonfiks pe-N-/-an yang dapat dipakai. Pembentukan kata mempunyai dua sifat, yaitu kata-kata yang infleksi dan yang bersifat derivative.
2.2.4 Proses Morfefonemik
Morfefonemik adalah gabungan duah buah kata morfem yang menimbulkan perubahan bunyi. Perubahan bunyi itu bisa terjadi pelepasan, penyuaraan (voicing).
Terjadi pelepasan / Penghilangan morfem
Contoh:
meN- + tulis ….mentulis….menlis
proses pelepasan
pe(N) + tulis
pen + tulis
penulis
dari sudut kata, morfefonemik terdiri atas: morf dan fonemik. Morf berhubungan dengan bentuk, fonemik berhubungan dengan fonem.
2.2.6 Afiksasi
Afiksasi adalah proses pengimbuhan atau proses pembentukan kata dasar / bentuk dasar dengan prefik, sufiks, dan konfiks. Afiks adalah satuan gramatikal di dalam suatu kata merupakan unsur yang yang bukan kata dan bukan pokok kata yang memiliki kesanggupan melekat pada satuan-satuan lain untuk membentuk kata pokok kata baru (Ramlan, 1987 :48-49). Hal ini sejlan dengan pendapat Muchlich (1990:37) bahwa afiks adalah bentuk kebahasaan terikat yang hanya mempunyai arti yang gramatikal, yang merupakan unsur langsung suatu kata, tetapi bukan merupakan bentuk dasar yang memiliki kesanggupan untuk membentuk kata-kata baru.
a.Pembagian afiks
Patedda (1988:70) menyatakan bahwa afiks itu banyak jenisnya, meskipun demikian afiks dapat dibagi berdasarkan (a) posisinya, (b) kemampuan melekatnya, dan (c) alasanya.
• Tinjauan dari segi posisi
Afiks dapat dibedakan atas (a) prefiks, (b) infiks, (c) konfiks dan gabungan (Patedda, 1988:777).
• Tinjauan dari segi produktifitas
Afiks dapat dibedakan atas (1) afiks produktif (2) inproduktif (Patedda,1988:70).
• Tinjauan dari segi alasannya
Afiks dapat di bedakan menjadi afiks asli dan afiks asing atau afiks bahasa asing(Patedda, 1988:71)
b.Fungsi Afiks
Sebuah afiks dikatakan berfungsi gramatikal, kalau bentuk dasarnya berbeda dengan jenis bentuknya yang baru. Misalnya kata makan berbeda jenisnya dengan makanan (tergolong jenis kata benda). Perubahan jenis kata kerja menjadi kata benda merupakan salah satu fungsi yang berhubungan dengan afiks –an atau dengan kata lain, salah satu fungsi afiks –an adalah membentuk kata benda. Maka kata sepeda, besepeda, dengan makna kata bersepeda. Kata bersepeda bermakna mempunyai atau mempergunakan sepeda. Jadi fungsi semantik yang terkandung afiks –ber antara lain adalah mempunyai atau mempergunakan.
c. Ciri-ciri Afiks
Pada umumnya afiks selalu dikacaukan dengan unsure terikat lainnya, seperti partikel atau kritik. Hal ini biasa saja terjadi karena bila ditinjau dari segi posisisi memang sulit dibedakan. Oleh sebab itu, berikut dikemukakan beberapa rumusan yang membedakan afiks dengan unsure-unsur lainnya. Keraf (1979:92) membedakan partikel dengan afiks sebagai berikut:
I. Partikel tidak memindahkan jnis kata dari kata-kata yang di ikutinaya sebaliknya sufiks (juga semua afiks) memindahkan kelas kata dari kata yang diikutinya.
II. Kata –kata yang di ikuti oleh sebuah partikel bisa bermacam-macam jenis katanya, sebaliknya sufiks (juga semua afiks) mengelompokan bermacam-macam jenis kata yang sama.
Bidang gerak partikel adalah sintaksis termasuk frasa dan klausa, sebaliknya sufiks (juga semua afiks) bergerak.
1. Proses afiks prefiks(awalan) dengan dasar
Ber -+atap beratap
Men- +larang melarang
Men-+bantu membantu
2. Proses afiksasi sufiks dengan bentuk dasar
Makan +an makanan
Minum+an .minuman
Harga+i hargai
3. Beli+ikan beli ikan
4. Proses afiksasi infiks dengan bentuk dasa
Infiks + bentuk dasar
-el + gembung gembung
-er+ gegar gigi
-em + gerak gemerak
2.2.7 Reduplikasi
Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, secara sebagian (parsial), maupun dengan penuh, seperti meja-meja (dari dasar meja),reduplikasi sebagian,seperti lelaki (dasar laki) dan reduplikasi dengan perubahan bunyi seperti bolak-balik (dasar balik).
Jenis-jenis Reduplikasi
Reduplikasi kata
a.Reduplikasi Murni
Reduplikasi murni merupaka reduplikasi yang seluruh bentuk kata di ulang.
Contoh: benar-benar
b. Reduplikasi sebagian
Reduplikasi sebagian adalah reduplikasi yang mengulang sebagian dari bentuk dasarnya.
Contoh: menari-menari
c. Reduplikasi berimbuhan
Reduplikasi berimbuhan adalah yang bentuk dasar berupa kata dasar sedangkan ulanganya berimbuhan
Contoh: tari-menarik
d. Reduplikasi berubah bunyi
Reduplikasi berubah bunyi adalah reduplikasi yang ulangannya mengalami perubahan bunyi.
Contoh: sayur-mayur
e. Reduplikasi suku kata
Reduplikasi suku kata adalah reduplikasi hanya mengulang suku kata aw al dengan mengalami perubahan bunyi-bunyi (a) (e) misalnya:
Tangga-tangga tangga tetangga
Tapi-tapi tatapi tetapi
Daun-daun dadaun dedaun
2.3.1Bentuk-bentuk Verba
Untuk menentukan suatu kata termasuk verba, digunakan valensi sintaksis. Kelas verba di temukan pada data terdiri dari,(1) verba murni yakni berba yang tidak berasal dari kelas kata lain. (2) verba denominal yakni terbentuk dari nomina, (3) verba deadjektival, yakni verba yang terbentuk dari objektiva, dan (5) verba depronominal, yakni verba yang terbentuk dari pronomina.
2.3.2 Verba Murni
Verba murni terdiri dari verba dasar (monomorfemis) dan verba tur (polimorfemis). Verba turunan yang terbentuk dari kata-kata verba yang biasa disebut verba diverbal.
o Verba dasar
Verba murni, bebentuk dasar yang ditemukan pada data yang ada yaitu : ada, bangkit, pergi, puasa, pulang, balik, makan, mampir, data ucap, ubah, turun, tinggal, terima, singgah, aman.
o Verba deverbal.
Veerva deverbal yang ditentukan pada data, terdiri dari beberapa kategori morfologis, yaitu:
Kategori di – D
Kategori ini menyatakan makna “tindakan” dengan berfokus sasaran
Contoh”di angkat, a verba 1
- Kategori meng-D
Kategori ini menyatakan makna (tidakan) yang disengaja berfokus pelaku.
Contoh: menyeret, menempel, menukar, menganguk, memakai, menuju, meniru, mengangkat, memakai, a verba 1
- Kategori ter-D
Kategori ini menyatakan makna “dapat” di.
Contohtersenyum a verba 1
- Kategori meng (D-I)
Kategori ini menyatakan makna “loktif”
Contoh: menyikapi, mempunyai, a verb 1
- Kategori meng (D-kan.
Kategori ini menyatakan makna “benefaktif”
Contoh: meneruskan, menyilahkan, menyebabkan, a verb 1
- Kategori ber (D-kan)
Kategori ini menyatakan makna “melakukan perbuatan” berlangsung lama, bisa sendiri atau orang lain.
Contoh: berpandangan a verb 1
- Kategori ber (D)
Kategori ini menyatakan makna tindakan “berlngsung lama”
Contoh: berakhir, berada, berteduh, a verb 1
- Kategori meng-D
Kategori ini menyatakan makna “proses / keadaan”
Contoh: melompat a verb 2
2.3.3 Verba Trasposis
o Verba Denominal
Verba denominal yang ditemukan pada data melipti enam kategori morfologis yaitu:
- kategori meng-D
kategori ini diderivasikan dari nomina kategori D melalui derivasi zero sehingga terbentuk verba kategori D yang menyakan makna “tindakan yang disengaja beerfokus pelaku”
contoh: menutup, meningkat a verb 1
- kategori meng- (D-I)
kategori ini berasal dari makna kategori D kemudian D menghasilkan verba kategori D-1 yang makna alokatif
contoh: menangani a veerb 2
- kategori meng di-(D-I)
kategori ini berasai dari nomina kategori D kemudian diderivasikan menjadi verba kategori D-I yang mempunyai makna “kausatif”
contoh: di tanda tangani a verba 2
- ktegori meng- (D-kan)
kategori ini berasal ari nimina kategori D kemudian diderivasikan menjadi verba kategori D-kan yang menyatakan makna “kausatif”
contoh:disebutkan, dimanfaatkan, disimpulkan, dilaksanakan, dilakukan, a verb 2
- kategori ber-D
kategori ini diderivai nomina kategori D dan menyatakan makna “tindakan berlangdung lama”
contoh: bertekat a verb 2
o Verba Deajektival
Verba deajektival ditemukan pada data, meliputi dua macam kategori morfologis, yaitu:
- Kategori meng-(D-I)
Kategori ini berasal dari adjektiva kategori D kemudian di derivasikan menjadi verba kategori D-kan yang menyatakan makna “kusatif”menjiwai, menghargai, menaggapi, a verb 2
Contoh:
- Kategori meng-(D-kan)
Kategori ini berasal dari ajektiva kategori D kemudian diderivasikan menjadi verba kategori D-kan yang menyatakan makna (kausatif)
Contoh: melaksanakan, menyenangkan, melanjutkan a verb 2
o Verba Demimeral
Dari data hanya ditemukan satu kategri morfologis verba denumeral, yaitu kategori meng-D, yang diderivasikan dari numeralia bentuk dasar yang menyatakan makna proses / keadaan.
Contoh: menyeluruh a verb 2
o Verba Depronominal
Dari data yang ditemukan satu kategori morfologis verba depronominal, yaitu kategori meng-(D-I)yang berasal dari pronominal bentuk dasar kemudian diderivasikan menjadi verba kategori D-I yang menyatakan makna “repetitif”
Contoh: mengakui verb 1
BAB III
METODE DAN TEKNIK PENELITIAN
3.1 Jenis dan metode penelitian
3.1.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan, dalam hal ini peneliti langsung ke lokasi penelitian untuk mendapatkan data di lapangan secara langsung dari informan .
3.1.2 Metode Penelitian
Metode yang digunaknan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Metode ini adalah metode penelitin dengan menggambarkan objek penelitian apa adanya, terutama yang berhubungan langsung dengan pengumpulan data, pengolahan data dan penyusunan laporan hasil penelitian. Penggunaan metode ini bertujuan untuk membuat deskripsi yng sistematis dan akurat mengenai sifat-sifat serta hubungan fenomena-fenomena yang diteliti (Djajasudarma, 1993:8).
3.2 Data dan Sumber data
3.2.1 Data
Data dalam penelitian ini adlah data bahasa lisan yakni berupa tuturan bahasa kulisusu, baik berupa kata, frase, klausa / kata yang memuat kata verba dari penutur asli bahasa kulisusu di kelirahan lipu kecamatan kulisusu kabupaten Buton Utara.
3.2.2 Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah informan yang mendiami kelurahan lipu kecamatan kulisusu kbupaten Buton Utara. Jumlah informan dalam penelitian ini ditetapkan 3 orang.Adapun inform dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan criteria sebagai berikut:
1. Informan merupakan penutur asli bahasa yang diteliti dan berdomisili di lokasi penelitian.
2. Jarang meninggalkan daerah/ lokasi yang diteliti dlam waktu yang terlalu lama
3. Berumur antara 30-50 tahun (lihat Konisi,1999
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar