Minggu, 03 Juni 2012

RPP ujian

PERTEMUAN I (80 menit)
A1    Kegiatan Awal (15):
B1    Kegiatan Inti (55 menit):
C1    Kegiatan Akhir (10 menit)
  MATERI PEMBELAJARAN


tahap 1 (5 menit): Pemancingan dengan mula-mula menanyakan kesiapan belajar siswa, lalu menanyakan pengetahuan dan pengalaman siswa tentang paragraf.

(55 menit): guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok, kemudian memberikan pemahaman kepada siswa mengenai paragraf deduktif dan induktif, serta perbedaan antara kalimat utama dan kalimat penjelas

Siswa bersama guru merumuskan kesimpulan umum atas semua butir pembelajaran yang telah dilaksanakan
Paragraf yang berpola deduktif dan induktif
 

Pengarahan dengan mula-mula bertanya jawab tentang jenis-jenis paragraf  berdasarkan letak kalimat utamanya, kemudian diakhiri dengan penegasan guru tentang tujuan pembelajaran yang harus dicapai dalam proses pembelajaran pada pertemuan itu. serta perbedaan antara kalimat utama dan kalimat penjelas     Siswa  diminta menyampaikan kesan dan saran (jika ada) terhadap proses pembelajaran yang baru selesai mereka ikuti;;Kalimat utama dan kalimat penjelas

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)









    STANDAR KOMPETENSI
Menulis: menggungkapkan pikiran, pendapat, dan informasi dalam penulisan karangan berpola deduktif dan induktif.
    KOMPETENSI DASAR
Menulis karangan berdasarkan topik tertentu dengan pola pengembangan deduktif dan induktif
    INDIKATOR
    Kognitif
    proses
    Menemukan kalimat yang mengandung gagasan utama pada paragraf
    Menemukan kalimat penjelas yang mendukung kalimat utama
    Menemukan paragraf induktif dan deduktif
    Produk
    Menentukan kalimat yang mengandung gagasan utama pada paragraf
    Menentukan kalimat penjelas yang mendukung kalimat utama
    Menentukan paragraf induktif dan deduktif
    Psikomotor
    Menjelaskan perbedaan paragraf deduktif dan induktif
    Afektif
    Karakter
    tanggung jawab
    kritis
     disiplin
    Keterampilan sosial
    Berbahasa santun dan komunikatif
    Partisipasi dalam (kerja sama) kelompok
    Membantu teman yang mengalami kesulitan
    TUJUAN PEMBELAJARAN
    Kognitif
     Proses
Setelah membaca dan memahami ragam wacana tulis dengan membaca intensif dan membaca nyaring, siswa secara berkelompok diharapkan dapat
    Menemukan kalimat yang mengandung gagasan utama pada paragraf
    Menemukan kalimat penjelas yang mendukung kalimat utama
    Menemukan paragraf induktif dan deduktif
    Produk
Setelah menemukan hasil pencapaian tujuan proses di atas, siswa secara berkelompok diharapkan dapat
    Menentukan kalimat yang mengandung gagasan utama pada paragraf
    Menentukan kalimat penjelas yang mendukung kalimat utama
    Menentukan paragraf induktif dan deduktif
    Psikomotor
Setelah menentukan dan memahami hasil pencapaian tujuan produk di atas, siswa secara mandiri diharapkan dapat
    Menjelaskan perbedaan paragraf deduktif dan induktif  
    Afektif
    Karakter
Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dengan memperlihatkan kemajuan dalam berperilaku yang meliputi sikap
    tanggung jawab
    kritis
     disiplin
    Keterampilan sosial
Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dengan memperlihatkan kemajuan kecakapan sosial yang meliputi
    Berbahasa santun dan komunikatif
    Partisipasi dalam (kerja sama) kelompok
    Membantu teman yang mengalami kesulitan



    MATERI PEMBELAJARAN
    Paragraf yang berpola deduktif dan induktif
    Kalimat utama dan kalimat penjelas
    Perbedaan deduktif dan induktif
    MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN
    Pendekatan: Pembelajaran Kontekstual 
    Model Pembelajaran: Kooperatif Tipe STAD
    Metode: tanya jawab, pemodelan, penugasan, dan unjuk kerja
    BAHAN DAN MEDIA
    Wacana tulis (artikel)
    LKS
    Kertas HVS
    ALAT
    Spidol
    Format evaluasi
    Pedoman penilaian dan penskoran












    SKENARIO PEMBELAJARAN

No.   
Kegiatam    Penilaian Pengamat
        1    2    3    4t
PERTEMUAN I (80 menit)
A1    Kegiatan Awal (15):
Tahap 1 (5 menit): Pemancingan dengan mula-mula menanyakan kesiapan belajar siswa, lalu menanyakan pengetahuan dan pengalaman siswa tentang paragraf.
Tahap 2 (10 menit): Pengarahan dengan mula-mula bertanya jawab tentang jenis-jenis paragraf  berdasarkan letak kalimat utamanya, kemudian diakhiri dengan penegasan guru tentang tujuan pembelajaran yang harus dicapai dalam proses pembelajaran pada pertemuan itu.               
B1    Kegiatan Inti (55 menit):
(55 menit): guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok, kemudian memberikan pemahaman kepada siswa mengenai paragraf deduktif dan induktif, serta perbedaan antara kalimat utama dan kalimat penjelas               
C1    Kegiatan Akhir (10 menit)
    Siswa bersama guru merumuskan kesimpulan umum atas semua butir pembelajaran yang telah dilaksanakan;
    Siswa  diminta menyampaikan kesan dan saran (jika ada) terhadap proses pembelajaran yang baru selesai mereka ikuti;
    Guru menugaskan siswa untuk mencari artikel di media masa yang akan mereka identifikasi paragraf deduktif dan induktif   



           

    SUMBER PEMBELAJARAN
    Wacana tulis
    Materi Essensial MGMP Sekolah
    Lembar Pegangan Guru
    LKS 1 ; LKS 2
    LP 1 ; LP 2
    Silabus


    EVALUASI DAN PENILAIAN
1. Evaluasi
    Evaluasi Proses: dilakukan berdasarkan pengamatan terhadap aktivitas peserta  (siswa) dalam menggarap tugas, diskusi, kegiatan tanya jawab, dan dialog informal.
    Evaluasi Hasil: dilakukan berdasarkan analisis hasil pengerjaan tugas dan pengerjaan tes, dan pengamatan unjuk keterampilan (performance)

     2. Penilaian
a.    Jenis Tagihan Penilaian: LKS 1 dan LP 1, LKS 2 dan LP 2, , LP 4, LP 5
    Tugas Individu: menggunakan LKS 3 ; LP 3
    Bentuk Instrumen Penilaian:
    Uraian bebas
    Jawaban singkat
    Pilihan ganda




























































































Satuan Pendidikan    : SMA
Mata Pelajaran    : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester    : XI/I
Standar Kompetensi    : Membaca
Kompetensi Dasar      : Menemukan perbedaan paragraf induktif dan deduktif melalui kegiatan           membaca intensif

LEMBAR PEGANGAN GURU
 (LPG)
Pengertian Paragraf
Paragraf (dari bahasa Yunani paragraphos, “menulis di samping” atau “tertulis di samping“) adalah Unit terkecil sebuah karangan yang terdiri dari kalimat pokok atau gagasan utama dan kalimat penjelas atau gagasan penjelas. Paragraf dikenal juga dengan nama lain alinea. Paragraf dibuat dengan membuat kata pertama pada baris pertama masuk ke dalam (geser ke sebelah kanan) beberapa ketukan atau spasi.
Syarat sebuah paragraf di setiap paragraf harus memuat dua bagian penting, yakni :
    Kalimat utama
Biasanya diletakkan pada awal paragraf, tetapi bisa juga diletakkan pada bagian tengah maupun akhir paragraf. Kalimat pokok adalah kalimat yang inti dari ide atau gagasan dari sebuah paragraf. Biasanya berisi suatu pernyataan yang nantinya akan dijelaskan lebih lanjut oleh kalimat lainnya dalam bentuk kalimat penjelas.
    Kalimat Penjelas
Kalimat penjelas adalah kalimat yang memberikan penjelasan tambahan atau detail rincian dari kalimat pokok suatu paragraf.

2. Jenis Paragraf Berdasarkan Letak Kalimat Utama
Letak kalimat utama juga turut menentukan jenis paragraf. Penjenisan paragraf berdasarkan letak kalimat utama ini terbagi atas 4 yakni :
    Paragraf Deduktif
Paragraf dimulai dengan mengemukakan persoalan pokok atau kalimat utama. Kemudian diikuti dengan kalimat-kalimat penjelas yang berfungsi menjelaskan kalimat utama. Paragraf ini biasanya dikembangkan dengan metode berpikir deduktif, dari yang umum ke yang khusus.

Dengan cara menempatkan gagasan pokok pada awal paragraf, ini akan memungkinkan gagasan pokok tersebut mendapatkan penekanan yang wajar. Paragraf semacam ini biasa disebut dengan paragraf deduktif, yaitu kalimat utama terletak di awal paragraf.

    Paragraf Induktif
Paragraf ini dimulai dengan mengemukakan penjelasan-penjelasan atau perincian-perincian, kemudian ditutup dengan kalimat utama. Paragraf ini dikembangkan dengan metode berpikir induktif, dari hal-hal yang khusus ke hal yang umum.
    Paragraf Campuran (Deduktif-Induktif)
Pada paragraf ini kalimat topik ditempatkan pada bagian awal dan akhir paragraf. Dalam hal ini kalimat terakhir berisi pengulangan dan penegasan kalimat pertama. Pengulangan ini dimaksudkan untuk lebih mempertegas ide pokok. Jadi pada dasarnya paragraf campuran ini tetap memiliki satu pikiran utama, bukan dua.
    Paragraf Tersebar
Paragraf ini tidak mempunyai kalimat utama, berarti pikiran utama tersebar di seluruh kalimat yang membangun paragraf tersebut. Bentuk ini biasa digunakan dalam karangan berbentuk narasi atau deskripsi.



DAFTAR PUSTAKA
Irawan, yudi (dkk). 2007. Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia. Jakarta : Pusat Perbukuan
























                
LEMBAR PENILAIAN
LP 1 : KOGNITIF PROSES
Pedoman Penskoran LKS 1
No.    Komponen    Deskriptor    Skor    Bobot    Skor
 x Bobot    Catatan
1.    Menemukan kalimat utama dan kalimat penjelas dalam  paragraf    a.Dapat menemukan kalimat utama  dan kalimat penjelas pada semua paragraf
b.Hanya dapat menemukan kalimat utama  dan  kalimat penjelas pada beberapa  paragraf .
c.Tidak dapat menemukan  kalimat utama dan kalimat penjelas dalam paragraf.   
2


1


0    5       
2.    Menemukan paragraf yang berpola deduktif dan induktif    a.Dapat menemukan paragraf yang berpola deduktif dan induktif  pada semua paragraf
b.Hanya dapat menemukan paragraf yang berpola deduktif dan induktif  pada beberapa  paragraf .
c.Tidak dapat menemukan  paragraf yang berpola deduktif dan induktif  pada semua paragraph   
2


1

0    5       
Jumlah               
Catatan :  0 = Sangat kurang  1  = kurang   2 = baik  
Cara Pemberian Nilai
Rumus :
nilai=(skor perolehan siswa)/(skor maksimum)    X 100
               
LP 2 : KOGNITIF PRODUK
Pedoman Penskoran LKS 2
No.    Komponen    Deskriptor    Skor    Bobot    Skor
 x Bobot    Catatan
1.    Menentukan kalimat utama dan kalimat penjelas dalam  paragraf    a.Dapat menentukan kalimat utama  dan kalimat penjelas pada semua paragraf
b.Hanya dapat menentukan kalimat utama  dan  kalimat penjelas pada beberapa  paragraf .
c.Tidak dapat menentukan  kalimat utama dan kalimat penjelas dalam paragraf.   
2


1


0    5       
2.    Menentukan paragraf yang berpola deduktif dan induktif    a.Dapat menentukan paragraf yang berpola deduktif dan induktif  pada semua paragraf
b.Hanya dapat menentukan paragraf yang berpola deduktif dan induktif  pada beberapa  paragraf .
c.Tidak dapat menentukan  paragraf yang berpola deduktif dan induktif  pada semua paragraf   
2


1

0    5       
Jumlah               
Catatan :  0 = Sangat kurang  1  = kurang   2 = baik  
Cara Pemberian Nilai
Rumus :
nilai=(skor perolehan siswa)/(skor maksimum)    X 100
               

LP 3 = Psikomotor
Pedoman Penskoran LKS 3
No.    Komponen    Deskriptor    Skor    Bobot    Skor
x
Bobot    Catatan
1.    Menjelaskan perbedaan paragraf deduktif dan induktif
    a.Dapat menjelaskan dengan sangat jelas dengan bahasa yang efektif dan santun.
b.Dapat menjelaskan, namun dengan terbata-bata.
c.Tidak dapat menjelaskan apa-apa.   
3

2

0    5       
Jumlah               
Catatan :  0 = Sangat kurang 2 = cukup baik  3 = baik  
Cara Pemberian Nilai
Rumus :

nilai=(skor perolehan siswa)/(skor maksimum)    X 100






LP 4 = Afektif : Perilaku Berkarakter

Petunjuk :
Berikan penilaian atas setiap perilaku berkarakter siswa menggunakan skala berikut :
A = sangat baik            B = memuaskan
C = Cukup baik            D = kurang baik

Format Pengamatan Perilaku Berkarakter
No.    Rincian tugas kinerja    Memerlukan perbaikan
(D)    Menunjukkan kemajuan
(C)    Memuaskan
(B)    Sangat baik
(A)
1    Tanggung jawab               
2    Kritis               
3    Disiplin               



Hari/Tanggal :

Guru/Pengamat


(…………………..)




LP 5 = Afektif : Perilaku Keterampilan Sosial

Petunjuk :
Berikan penilaian atas setiap perilaku berkarakter siswa menggunakan skala berikut :
A = sangat baik            B = memuaskan
C = Cukup baik            D = kurang baik

Format Pengamatan Keterampilan Sosial
No.    Rincian tugas kinerja    Memerlukan perbaikan
(D)    Menunjukkan kemajuan
(C)    Memuaskan
(B)    Sangat baik
(A)
1    Berbahasa santun dan komunikatif               
2    Partisipasi dalam (kerja sama) kelompok               
3    Membantu  teman yang kesulitan               



Hari/Tanggal :

Guru/Pengamat


(…………………..)




MEDIA PEMBELAJARAN
Bacalah Kutipan Artikel Berikut!
Efek Rumah Kaca
Segala sumber energi yang terdapat di bumi berasal dari matahari. Sebagian besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika mengenai permukaan bumi, energi berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan bumi. Permukaan bumi akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini sebagi radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun, sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbondioksida dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini.gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan bumi. Akibatnya panas akan tersimpan di permukaan bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata  tahunan bumi terus meningkat.
Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsenterasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya. Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala mahkluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15˚C (59˚F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33˚C (59˚F) dengan efek rumah kaca (tanpanya suhu bumi hanya -18˚C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan bumi). Akibatnya jumlah gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, pemanasan global menjadi akibatnya.
Kenaikan suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan.misalnya naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser dan punahnya berbagai jenis hewan
Beberapa hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi pada masa depan dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perbedaan politik dan publik di dunia mengenai tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut. Sebagian besar Negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca

                                Kendari,  Desember 2011
Guru Pamong                        Mahasiswa KKP                                                               
HARLINA, S.Pd                         A R I S
NIP  197605292007012012                 A1D1 07 105




Mengetahui,
Kepala SMA Kartika VII-2 Kendari


Drs. H. NP. DAHLAN

Sabtu, 02 Juni 2012

PROPOSAL KEANEKA RAGAMAN BUDAYA BUTON UTARA






BAB I

PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Propinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara, terletak antara        3° - 6° lintang selatan dan 120° - 124° bujur timur, merupakan wilayah daratan dan kepulauan; berbatasan di sebelah utara dengan Propinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah, di sebelah timur dengan Laut Banda, di sebelah selatan dengan Laut Flores, dan di sebelah barat dengan Teluk Bone.
Wilayah Propinsi Sulawesi Tenggara mencakup wilayah seluas 38.140 kilometer persegi. Tata guna lahan pada tahun 1990 meliputi areal hutan seluas 25.668 kilometer persegi atau 67,3 persen, areal semak belukar seluas 4.195 kilometer persegi atau 11 persen, areal padang rumput seluas 3.700 kilometer persegi atau 9,7 persen, areal ladang seluas 1.220 kilometer persegi atau 3,2 persen, dataran tinggi seluas 1.335 kilometer persegi atau 3,5 persen, areal sawah 610 kilometer persegi atau 1,6 persen, areal perkebunan seluas 191 kilometer persegi atau 0,5 persen, areal pemukiman seluas 648 kilometer persegi atau 1,7 persen, dan areal


budi daya lainnya 572 kilometer persegi atau 1,5 persen dari seluruh luas wilayah.
Propinsi Sulawesi Tenggara merupakan wilayah yang berbukit-bukit dan pegunungan, dan berada pada ketinggian antara 500 - 2.800 meter di atas permukaan laut. Wilayah ini memiliki beberapa sungai yang relatif besar yang merupakan sumber pengairan, antara lain Sungai Konaweha, Lambandia, Matarombeo, Lasolo, dan Watanakole. Iklim daerah Sulawesi Tenggara termasuk tropis yang dipengaruhi oleh angin laut sehingga curah hujan cukup tinggi dan merata setiap tahunnya beragam antara 1.000 - 2.500 milimeter. Suhu udara beragam antara 20°Celcius - 34°Celcius. Dengan kondisi fisik seperti tersebut di atas, beberapa kawasan di propinsi ini mempunyai ciri sebagai kawasan yang rawan terhadap bencana, antara lain erosi tanah, banjir, dan kebakaran hutan.
Lahan di Propinsi Sulawesi Tenggara sebagian besar telah dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian, pertambangan, dan industri. Selain itu, di propinsi tersebut masih terdapat potensi yang cukup besar untuk pengembangan kehutanan, perikanan laut, perikanan darat dan pertambangan.
Pada tahun 1990 penduduk Propinsi Sulawesi Tenggara berjumlah 1.357.300 jiwa, dengan kepadatan penduduk 36 jiwa per kilometer persegi. Daerah tingkat II yang terpadat penduduknya adalah Kabupaten Buton dengan kepadatan 61 jiwa per kilometer persegi, sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Kolaka dengan kepadatan rata-rata 23 jiwa per kilometer persegi. Penduduk yang tinggal di wilayah perkotaan berjumlah 229.826 orang atau 17,0 persen dari jumlah penduduk Propinsi Sulawesi Tenggara. Jumlah penduduk perkotaan di propinsi ini mengalami peningkatan yang cukup berarti dengan rata-rata laju pertumbuhan antara tahun 1971 dan 1990 sebesar 8,93 persen per tahun.


Pada tahun 1990 penduduk usia kerja (10 tahun ke atas) di propinsi ini berjumlah 907.706 orang (67,25 persen). Dari jumlah tersebut yang masuk ke dalam angkatan kerja 547.166 orang dan angkatan kerja yang bekerja sebanyak 539.542 orang. Dari seluruh angkatan kerja yang bekerja tersebut, sebagian besar terserap di sektor pertanian (68,8 persen). Sisanya terserap di berbagai sektor lain, yaitu sektor industri (7,9 persen) dan jasa (23,3 persen).
Propinsi Sulawesi Tenggara memiliki kekayaan budaya yang beranekaragam dalam bentuk adat istiadat, tradisi, seni, budaya, dan Bahasa. Masyarakat Sulawesi Tenggara terdiri atas berbagai suku antara lain, suku Buton, Muna, Bugis, Kalisusu, Toraja, Maronene, Tolaki, Wolio, dan Wowonii, serta suku lainnya yang masing-masing memiliki kebudayaan dan adat istiadatnya sendiri. Penduduk propinsi ini sebagian besar beragama Islam (94,95 persen), dan selebihnya beragama Kristen (2,04 persen), dan agama lainnya (3,1 persen).
Secara administratif Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara terdiri atas 4 kabupaten daerah tingkat II, yakni kabupaten Kendari, Kolaka, Muna, dan Buton. Dalam wilayah Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara terdapat 2 kota administratif, yakni Kendari sebagai ibukota propinsi dan Bau Bau, dan 64 wilayah kecamatan, serta 809 desa dan kelurahan.
1.2  RUMUSAN MASALAH
Adapu yang menjadi permasalahan malam makalh ini adala
1.    Untukmengetahui sejauh mana perhatian pemerintah terhadap tingkat perkembangan hasil pertanian di Sulawesi tenggara
2.    Bagai mana tata cara pelaksanaan ke arsipan di Sulawesi tenggara tentang pengolalaan hasil pertanian pada kantor dinas pertanahan di Sulawesi tenggaa
BAB II
PAMBAHASAN
2.1  PEMBANGUNAN DAERAH TINGKAT I SULAWESI TENGGARA DALAM PJP I
Laju pertumbuhan ekonomi Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara yang relatif cepat tersebut didukung oleh laju pertumbuhan ekspor nonmigas rata-rata sebesar 25,0 persen per tahun antara tahun 1987 - 1992 dengan komoditas andalan kakao dan kayu gergajian.
Dalam periode 1983 - 1990 laju pertumbuhan PDRB tercatat sebesar 8,6 persen per tahun. Sektor yang menunjukkan pertum­buhan yang cukup tinggi adalah sektor industri pengolahan (24,8 persen); sektor listrik, gas, dan air minum (16,0 persen); serta sektor perdagangan, hotel, dan restoran (11,6 persen).
PDRB nonmigas per kapita pada tahun 1990 menurut harga konstan tahun 1983 di propinsi ini telah mencapai Rp394 ribu,   yang berarti telah meningkat dibandingkan dengan tahun 1983 yang besarnya Rp285 ribu, atau meningkat dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 4,72 persen per tahun.
Pembangunan di bidang kesejahteraan sosial telah menghasil­kan tingkat kesejahteraan sosial yang lebih baik yang ditunjukkan


oleh berbagai indikator. Jumlah penduduk melek huruf meningkat dari 52,57 persen pada tahun 1971 menjadi 82,36 persen pada     tahun 1990, angka kematian bayi per seribu kelahiran hidup turun dari 145 pada tahun 1971 menjadi 68 pada tahun 1990, dan usia harapan hidup penduduk meningkat dari 45,9 tahun pada tahun 1971 menjadi 60,4 tahun pada tahun 1990.
Peningkatan kesejahteraan itu didukung oleh peningkatan pelayanan kesehatan yang makin merata dan makin luas jang­kauannya. Pada tahun 1990 telah ada 12 unit rumah sakit dengan kapasitas tempat tidur sebanyak 666 buah, dan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) serta puskesmas pembantu sebanyak 382 unit dengan jangkauan pelayanan mencakup luasan 72,5 kilometer persegi dan dengan penduduk yang dilayani sebanyak 3.532 orang per puskesmas termasuk puskesmas pembantu. Jika dibandingkan dengan keadaan 1972, jumlah puskesmas baru mencapai 27 unit dengan jangkauan pelayanan mencakup luasan 1.025,4 kilometer persegi dan dengan penduduk yang dilayani sebanyak 27.267 orang per puskesmas.
Tingkat pendidikan rata-rata di Propinsi Sulawesi Tenggara telah menunjukkan peningkatan yang diperlihatkan oleh angka partisipasi kasar sekolah dasar (SD) yang pada tahun 1992 telah mencapai 107 persen, dibandingkan tahun 1972 yang baru mencapai 85,1 persen. Angka partisipasi tahun 1992 tersebut sama tinggi dengan tingkat nasional, yaitu sebesar rata-rata 107,5 persen pada tahun 1992. Tingkat partisipasi pendidikan ini didukung oleh ketersediaan sekolah yang makin meningkat. Pada tahun 1992 telah ada 1.673 unit SD. Pada tahun 1972 jumlah SD baru mencapai 650 unit. Peningkatan jumlah SD dan murid didukung oleh peningkatan jumlah guru. Pada tahun 1992 tercatat 12.981 orang guru SD dan setiap guru SD melayani 19 murid.
Pembangunan daerah Sulawesi Tenggara didukung oleh pembangunan prasarana dan sarana yang dilaksanakan, baik oleh


pemerintah pusat maupun pemerintah daerah tingkat I dan daerah tingkat II. Di bidang prasarana transportasi sampai dengan tahun 1992 telah dibangun dan ditingkatkan berbagai prasarana transportasi darat meliputi dermaga penyeberangan dan jaringan jalan yang mencapai 6.517 kilometer dengan tingkat kepadatan sebesar 199,7 kilometer per 1.000 kilometer persegi. Ketersediaan prasarana transportasi laut bagi daerah Sulawesi Tenggara juga sangat penting mengingat banyaknya daerah pantai dan kepulauan. Pelayaran dari dan ke berbagai pulau yang jaraknya relatif besar umumnya telah dilayani secara rutin baik oleh pelayaran perintis, maupun pelayaran swasta dan rakyat setempat. Penyediaan prasarana pelabuhan laut di Kendari dan empat pelabuhan laut lainnya terus ditingkatkan, selain itu prasarana transportasi udara juga mengalami peningkatan. Transportasi udara di Sulawesi Tenggara dilayani empat bandar udara (bandara), dan satu diantaranya adalah Bandar Udara Wolter Monginsidi di Kendari yang merupakan bandar udara utama yang pada saat ini dapat didarati oleh pesawat jenis F-28, bandar udara lainnya merupakan pelabuhan udara perintis, terdapat di Buton, Muna, dan Kendari Selatan.
Di bidang pengairan, meskipun masih terbatas, telah ada peningkatan prasarana pengairan seperti bendung dan jaringan irigasi. Pada tahun 1993 jaringan irigasi yang ada telah mengairi sawah seluas kurang lebih 50.000 hektare sehingga membantu peningkatan dan menunjang produksi pertanian. .
Penyediaan prasarana ketenagalistrikan di propinsi ini dilayani oleh Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) Wilayah VIII yang meliputi juga Propinsi Sulawesi Selatan, dan sampai dengan tahun 1991 telah menghasilkan daya terpasang sebesar 378 megawatt.
Investasi yang dilakukan Pemerintah di Propinsi Sulawesi Tenggara melalui anggaran pembangunan yang dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) menunjukkan kecenderungan yang meningkat. Alokasi anggaran pembangunan


yang berupa dana bantuan pembangunan daerah (Inpres) dan dana sektoral melalui daftar isian proyek (DIP) dalam Repelita IV dan V berjumlah masing-masing mencapai Rp422,6 miliar dan Rp720,7 miliar.
Perkembangan pendapatan asli daerah (PAD) menunjukkan peningkatan yang cukup berarti, dengan rata-rata pertumbuhan selama Repelita V kurang lebih 14,96% per tahun. Dalam masa itu PAD telah meningkat dari Rp3,1 miliar pada tahun 1989/90  menjadi Rp4,9 miliar pada tahun 1993/94. Peningkatan yang cukup berarti dari PAD dan Bantuan Pembangunan Daerah dari tahun ke tahun mempengaruhi pula peningkatan belanja pembangunan   dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) tingkat I Sulawesi Tenggara. Pada tahun pertama Repelita V belanja pembangunan daerah berjumlah Rp776,8 miliar dan pada tahun terakhir Repelita V meningkat menjadi Rpl.559,3 miliar. Bagian terbesar dari belanja pembangunan digunakan untuk membangun prasarana khususnya prasarana perhubungan.
Meskipun masih relatif kecil, investasi swasta telah menunjukkan peningkatan. Gejala tersebut terlihat dari jumlah proyek baru penanaman modal dalam negeri (PMDN) yang disetujui Pemerintah dalam masa empat tahun Repelita V, yaitu 9 proyek penanaman modal dalam negeri (PMDN) dengan nilai Rp286,1 miliar dan 6 proyek penanaman modal asing (PMA) dengan nilai US$74,1 juta.
Rencana tata ruang wilayah (RTRW) propinsi daerah tingkat I yang berupa rencana struktur tata ruang propinsi (RSTRP) dan RTRW kabupaten/kotamadya daerah tingkat II yang berupa    rencana umum tata ruang kabupaten/kotamadya (RUTRK) telah selesai disusun, meskipun pada akhir PJP I sedang dalam proses untuk ditetapkan sebagai peraturan daerah.


2.2 TANTANGAN, KENDALA, DAN PELUANG      PEMBANGUNAN
Pembangunan daerah tingkat I Sulawesi Tenggara selama PJP      I telah memberikan hasil yang secara nyata dirasakan oleh masyarakat, dengan makin meningkatnya kegiatan perekonomian didukung oleh meningkatnya ketersediaan prasarana dan sarana pembangunan daerah, meningkatnya taraf kesejahteraan dan makin tercukupinya kebutuhan dasar masyarakat termasuk pendidikan dasar dan kesehatan. Namun, disadari pula masih banyak masalah yang dihadapi.
Pembangunan yang telah banyak dilakukan di Daerah Tingkat    I Sulawesi Tenggara selama PJP I, dalam PJP II akan dilanjutkan dan ditingkatkan sesuai dengan GBHN 1993. Untuk itu, perlu ditemukenali berbagai tantangan dan kendala yang akan dihadapi, serta peluang yang dapat dimanfaatkan.
1.    Tantangan
Dalam PJP I telah banyak kemajuan yang dicapai Propinsi Sulawesi Tenggara. Namun, secara keseluruhan taraf kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakatnya yang ditunjukkan oleh berbagai indikator seperti tingkat PDRB nonmigas perkapita dan laju pertumbuhan PDRB nonmigas, angka melek huruf, dan angka harapan hidup relatif rendah dibandingkan dengan rata-rata nasional. Dengan demikian, tantangan utama pembangunan daerah Sulawesi Tenggara adalah meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan memperluas landasan ekonomi daerah yang didukung oleh peningkatan ekspor nonmigas dan perluasan kesempatan kerja sehingga mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dibutuhkan tenaga kerja yang berkualitas, dan produktif. Kondisi


ketenagakerjaan di Propinsi Sulawesi Tenggara ditandai oleh besarnya jumlah tenaga kerja yang terserap di sektor pertanian yang produktivitasnya relatif rendah, terutama di sektor pertanian tradisional, dibandingkan dengan tenaga kerja yang terserap di sektor nonpertanian, khususnya industri pengolahan dan jasa. Sektor industri dan jasa, yang berperan sebagai penggerak percepatan laju pertumbuhan ekonomi daerah, memerlukan tenaga kerja dengan produktivitas yang tinggi. Di propinsi ini kualitas tenaga kerja yang tersedia umumnya belum memenuhi tuntutan kualitas pasar tenaga kerja, khususnya dalam sektor ekonomi yang cepat pertumbuhannya. Dengan demikian, untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi Propinsi Sulawesi Tenggara, tantangannya adalah membentuk serta mengembangkan sumber daya manusia berkualitas, yaitu sumber daya manusia yang produktif dan berjiwa wiraswasta yang mampu mengisi, menciptakan, memperluas lapangan kerja, dan kesempatan berusaha.
Untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dibutuhkan investasi yang besar, sedangkan kemampuan investasi pemerintah terbatas sehingga untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperlukan peningkatan investasi oleh masyarakat dan dunia usaha. Sehu­bungan dengan itu, Propinsi Sulawesi Tenggara harus mampu menarik dunia usaha agar menanamkan modal dan mengem­bangkan potensi berbagai sumber daya pembangunan di propinsi ini. Dengan demikian, Propinsi Sulawesi Tenggara dihadapkan pada masalah untuk menciptakan iklim usaha yang menarik bagi investasi masyarakat dan dunia usaha. Dalam rangka menciptakan iklim usaha yang menarik di daerah, tantangannya adalah mengembangkan kawasan dan pusat pertumbuhan yang dapat menampung kegiatan ekonomi, memperluas lapangan kerja, dan sekaligus memenuhi fungsi sebagai pusat pelayanan.
Pertumbuhan ekonomi yang ingin dipercepat membutuhkan dukungan ketersediaan prasarana dasar yang memadai, antara lain transportasi, tenaga listrik, pengairan, air bersih, dan teleko­munikasi. Meskipun telah meningkat, ketersediaan prasarana


dasar daerah Sulawesi Tenggara, tetapi belum memenuhi kebutuhan maupun tuntutan kualitas pelayanan yang terus meningkat. Untuk daerah yang kondisi geografisnya seperti Propinsi Sulawesi Tenggara, diperlukan suatu sistem transportasi antarmoda yang menekankan sistem transportasi regional, pelayaran antarpulau oleh pelayaran armada rakyat yang terpadu dengan pelayaran perintis dan pelayaran nasional, serta sistem transportasi darat yang dapat meningkatkan keterkaitan wilayah produksi dengan pasar. Untuk meningkatkan efisiensi ekonomi, terutama dalam distribusi barang dan jasa, diperlukan dukungan prasarana dan sarana transportasi yang memadai. Di pihak lain ada keterbatasan kemampuan pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk membangun prasarana dan sarana transportasi guna mempercepat pembangunan daerah ini. Oleh karena itu, tantangan yang dihadapi adalah meningkatkan ketersediaan serta kualitas dan memperluas jangkauan pelayanan transportasi antarmoda secara terpadu dan optimal, dengan mengikutsertakan dunia usaha, serta dilakukan secara terkoordinasi dengan propinsi lainnya yang bertetangga.
Hasil pembangunan di bidang kesejahteraan sosial di Sulawesi Tenggara telah menunjukkan kemajuan cukup baik. Meskipun demikian, dengan kemajuan yang dicapai tersebut, propinsi ini masih relatif tertinggal dibandingkan dengan tingkat kemajuan rata-rata nasional. Di samping itu, di Propinsi Sulawesi Tenggara masih terdapat kesenjangan antargolongan masyarakat dan antardaerah, antara lain karena masih terbatasnya jangkauan prasarana dan sarana. Kondisi di atas menghadapkan Sulawesi Tenggara pada tantangan untuk meningkatkan, memeratakan, dan memperluas jangkauan dan mutu pelayanan kesehatan, pendidikan, dan pelayanan sosial lainnya serta jangkauan informasi sampai ke seluruh pelosok daerah.


Pada tahun 1993, jumlah desa tertinggal di propinsi masih cukup banyak, yaitu 327 desa atau 39,2 persen dari seluruh desa yang ada di Sulawesi Tenggara. Masalah kemiskinan yang memer­lukan penanggulangan secara khusus dan menyeluruh ini, merupa­kan tantangan pula bagi pembangunan daerah Sulawesi Tenggara dalam PJP II, khususnya Repelita VI.
Meningkatnya intensitas pembangunan selain mengakibatkan peningkatan penggunaan lahan, air, dan sumber daya alam lainnya, juga menimbulkan kerusakan sumberdaya alam dan menghasilkan limbah dalam jumlah yang makin meningkat. Hal ini berakibat menurunnya kualitas dan daya dukung lingkungan hidup. Dengan demikian, pembangunan daerah dihadapkan pada tantangan untuk membangun tanpa merusak lingkungan dan meningkatkan efektivitas pengelolaan dan rehabilitasi sumber daya alam sehingga menjamin pembangunan yang berkelanjutan.
Belum mantap dan meratanya kemampuan aparatur di daerah serta belum serasinya koordinasi antarlembaga dalam mengelola pembangunan, merupakan tantangan yang dihadapi dalam rangka memperkuat kemampuan manajemen dan kelembagaan di daerah.
2.    Kendala
Sebagai propinsi yang memiliki karakteristik fisik wilayah yang terdiri atas wilayah pegunungan dan berbukit-bukit, upaya pembangunan daerah dihadapkan kepada berbagai kendala yang erat kaitannya dengan kondisi geografis wilayah, terutama keterbatasan ketersediaan lahan dan air yang berkualitas yang menjadi kendala bagi pengembangan kegiatan produktif khususnya pertanian serta pengembangan prasarana dan sarana dasar pembangunan, khususnya sistem transportasi. Propinsi ini mempunyai jumlah penduduk yang relatif sedikit dibandingkan dengan luas wilayahnya, terutama terhadap


pengembangan potensi sumber daya alam yang luas. Selain itu, persebaran penduduk yang tidak merata dan kualitas sumber daya manusia yang masih rendah merupakan kendala, baik bagi upaya mengembangkan kegiatan ekonomi produktif maupun bagi upaya melayani kebutuhan dasar masyarakat secara efisien.
3.    Peluang
Hasil pembangunan yang telah dicapai propinsi ini selama PJP I dapat menjadi modal dan membuka peluang untuk meningkatkan pembangunan dalam PJP II. Hasil pembangunan berupa prasarana dan sarana sosial dan ekonomi, kelembagaan yang telah terbentuk dan berfungsi, peran serta masyarakat yang makin meningkat dalam kegiatan pembangunan adalah modal dan peluang yang dapat dikembangkan.
Propinsi Sulawesi Tenggara memiliki potensi sumber daya alam yang belum banyak dimanfaatkan. Demikian pula ada potensi pembangunan yang telah dimanfaatkan, tetapi belum optimal dikembangkan, antara lain adalah pertanian, kehutanan, pertam­bangan dan galian industri, pertanian, industri, dan pariwisata.
Sumber daya perikanan dan hasil laut Propinsi Sulawesi Tenggara dinilai mempunyai potensi kandungan yang cukup besar dan prospek yang sangat baik bagi pemenuhan permintaan pasar domestik dan internasional dengan komoditas andalannya antara lain ikan cakalang, tuna, teri, layang, dan ikan kerapu yang     terdapat di Londano, Bungkinalo, Lakare, Runa, dan Lasolo. Potensi kehutanan di propinsi ini terutama dimiliki oleh Kabupaten Kolaka, Kendari, dan Muna dengan komoditas antara lain kayu   jati, kayu cendana, kayu hitam, kayu rimba pooti, bakau, damar, dan rotan.
Di sektor pertambangan dan galian, Propinsi Sulawesi Tenggara memiliki potensi berbagai mineral dan bahan galian ter­utama bahan logam seperti nikel di daerah Pomala dan di Kolaka,


aspal di Buton serta bahan lainnya, seperti chromit, pasir, batu koral, batu kali, marmer, batu gamping, serta tanah liat yang tersebar dalam jumlah yang cukup besar untuk dikembangkan.
Industri, baik yang berbasis sumber daya alam khususnya industri pengolahan hasil hutan dan hasil kelautan maupun yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), seperti industri maritim dan perkapalan, serta bioteknologi dan akuakultur, memiliki potensi untuk dikembangkan.
Pariwisata juga merupakan sektor yang berpeluang untuk dikembangkan. Potensi wisata alam, bahari, agrowisata, dan budaya dapat dikembangkan secara lebih optimal dengan memanfaatkan kekayaan pemandangan alam Propinsi Sulawesi Tenggara yang memiliki rona alam bergunung-gunung, garis pantai yang panjang, pulau-pulau, dan taman lautnya, serta latar belakang sejarah dan keanekaragaman tradisi, seni, dan budaya setempat yang unik dan menarik.
 
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Hasil pembangunan di bidang kesejahteraan sosial di Sulawesi Tenggara telah menunjukkan kemajuan cukup baik. Meskipun demikian, dengan kemajuan yang dicapai tersebut, propinsi ini masih relatif tertinggal dibandingkan dengan tingkat kemajuan rata-rata nasional. Di samping itu, di Propinsi Sulawesi Tenggara masih terdapat kesenjangan antargolongan masyarakat dan antardaerah, antara lain karena masih terbatasnya jangkauan prasarana dan sarana. Kondisi di atas menghadapkan Sulawesi Tenggara pada tantangan untuk meningkatkan, memeratakan, dan memperluas jangkauan dan mutu pelayanan kesehatan, pendidikan, dan pelayanan sosial lainnya serta jangkauan informasi sampai ke seluruh pelosok daerah.

Pantun dalam bahasa wakatobi


1.Gola kbone gola meha
    Isae waje mombaka namino
    Kuli mohute kuli kbiru
    Utama ako temingkuno.
                 Artinya : Gula pasir gula merah
                                 Dibuat waje enak rasanya
                                 Kulit putih kulit hitam
                                 Yang utama tingkah lakunya.
2. Gunu tindoi gunu karamat
    Kampo waha I wiwi mawi
    Kbisa melai yaku kei koo
    Mbeaka ku lumahakoko temia hele.
                       Artinya : Gunung tindoi gunung keramat
                                       Desa waha di pinggir laut
                                       Biar jauh aku denganmu
                                       Pantang aku cari yang lain.
3. Heloa ndawu –ndawu isimpo olo
   Baru molinga pake santa
   Bisa mandawulu awana te artis
   Mbeako sambahea mbeae  gunano
                         Artinya : Masak ndawu-ndawu di siang hari
                                          Jangan lupa pakaikan santan
                                          Walau cantik seperti artis
                                          Tidak sembahyang tidak berguna.          

Sabtu, 19 Mei 2012


Cintamu adalah harapanq....!!!!!!

Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan, walaupun itu penuh dengan cobaan dan rintangan yang silih berganti, tapi keyakin berkata dibalik semua itu adalah harapan....
Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh di dalam diri kita. Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian cinta diharapkan berasal dari hati kita yang paling dalam. Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai dia.
Cinta...
Cinta yang belum matang berkata:
"Aku cinta kamu karena aku butuh kamu"
Cinta yang sudah matang berkata:
"Aku butuh kamu karena aku cinta kamu"
Nafsu hanya akan memberikan kebahagiaan sesaat
tapi cinta yang tulus dan sejati akan memberikan
kebahagiaan selamanya
Cinta tidak membuat dunia berputar
Cinta inilah yang membuat perjalanan tersebut berharga
Setetes kebencian di dalam hati
Pasti akan membuahkan penderitaan
Tapi setetes cinta di dalam relung hati
akan membuahkan kebahagiaan sejati
Bahagialah bagi orang yang mengerti akan arti cinta,
Karena Cinta itu akan memberikan warna bagi kehidupan
Engkau adalah wanita yang paling tepat untuk mendampingiku menjadi yang terbaik.....

Love, 2012....
                                    Heltief....
Cintamu adalah harapanq....!!!!!!
Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan, walaupun itu penuh dengan cobaan dan rintangan yang silih berganti, tapi keyakin berkata dibalik semua itu adalah harapan....
Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh di dalam diri kita. Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian cinta diharapkan berasal dari hati kita yang paling dalam. Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai dia.
Cinta...
Cinta yang belum matang berkata:
"Aku cinta kamu karena aku butuh kamu"
Cinta yang sudah matang berkata:
"Aku butuh kamu karena aku cinta kamu"
Nafsu hanya akan memberikan kebahagiaan sesaat
tapi cinta yang tulus dan sejati akan memberikan
kebahagiaan selamanya
Cinta tidak membuat dunia berputar
Cinta inilah yang membuat perjalanan tersebut berharga
Setetes kebencian di dalam hati
Pasti akan membuahkan penderitaan
Tapi setetes cinta di dalam relung hati
akan membuahkan kebahagiaan sejati
Bahagialah bagi orang yang mengerti akan arti cinta,
Karena Cinta itu akan memberikan warna bagi kehidupan
Engkau adalah wanita yang paling tepat untuk mendampingiku menjadi yang terbaik.....

Love, 2012....
                                    Heltief....


Jumat, 01 Juni 2012

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Nama Sekolah : SMAN 1 Raha Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas/ Semester : X/2 Standar Kompetensi Menulis Mengungkapkan informasi melalui penulisan paragraf dan teks pidato. Kompetensi Dasar Menulis gagasan untuk mendukung suatu pendapat dalam bentuk paragraf argumentatif. Indikator Kognitif Proses Mampu menentukan karakteristik paragraf argumentatif. Mendaftar topik-topik pendapat yang dapat dikembangkan menjadi paragraf argumentatif. Produk Menentukan topik yang akan dikembangkan menjadi paragraf argumentatif. Menyusun kerangka paragraf argumentatif. Psikomotor Mengembangkan kerangka yang telah disusun menjadi paragraf argumentatif. Menggunakan kata penghubung antarkalimat (oleh karena itu, dengan demikian, dan lain-lain) dalam paragraf argumentatif. Menyunting paragraf argumentatif yang ditulis teman. Afektif Karakter tanggung jawab ingin tahu kreatif jujur kritis disiplin bersahabat/ komunikatif Keterampilan Sosial inisiatif dalam (kerja sama) kelompok berbahasa santun dan komunikatif, partisipasi dalam (kerja sama) kelompok. Tujuan Pembelajaran Kognitif Proses Setelah membaca contoh paragraf argumentatif, diharapkan siswa dapat: Mampu mendiskusikan karakteristik paragraf argumentatif. Mendaftar topik-topik pendapat yang dapat dikembangkan menjadi paragraf argumentatif. Produk Setelah membahas dan mendiskusikan hasil pencapaian tujuan proses di atas, siswa secara berkelompok diharapkan dapat: Menentukan topik yang akan dikembangkan menjadi paragraf argumentatif. Menyusun kerangka paragraf argumentatif. Psikomotor Setelah mempelajari dan berlatih menguasai hasil pencapaian tujuan produk di atas, siswa secara mandiri diharapkan dapat: Mengembangkan kerangka yang telah disusun menjadi paragraf argumentatif. Menggunakan kata penghubung antarkalimat (oleh karena itu, dengan demikian, dan lain-lain) dalam paragraf argumentatif. Menyunting paragraf argumentatif yang ditulis teman. Afektif Karakter Dengan arahan, bimbingan, dan motivasi yang diberikan oleh guru, siswa diharapkan dapat terlibat langsung secara aktif dan produktif baik dalam proses pembelajaran di kelas pada umumnya maupun dalam melaksanakan tugas kelompok dan tugas mandiri pada khususnya dengan memperlihatkan kemajuan berperilaku positif dengan karakter yang meliputi tanggung jawab, ingin tahu, jujur, kreatif, kritis, disiplin, serta bersahabat dan komunikatif. Keterampilan sosial Melalui arahan, motivasi, dan strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru di kelas siswa diharapkan dapat terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran di kelas dengan menunjukkan kemajuan kecakakapan sosial yang meliputi inisiatif dalam (kerja sama) kelompok, berbahasa santun dan komunikatif dalam berbicara, dan partisipasi dalam (kerja sama) kelompok. Materi Pembelajaran Contoh paragraf argumentatif Topik paragraf argumentatif Kerangka paragraf argumentatif Penggunaan kata penghubung dalam paragraf argumentatif Model dan Metode Pembelajaran Pendekatan : Pembelajaran Kontekstual Model Pembelajaran : Kooperatif Tipe STAD Metode : Tanya jawab, pemodelan, diskusi, dan unjuk kerja Bahan/ Media Contoh paragraf argumentatif Buku Aktif dan Kreatif berbahasa Indonesia untuk kelas X SMA/MA Lembar Kerja Siswa (LKS) Alat Spidol Format Evaluasi Pedoman penilaian dan penskoran Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran No. Kegiatan Alokasi Waktu A. Kegiatan Awal (10 menit) Prabembelajaran: Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam, memeriksa kebersihan kelas, menanyakan keadaan siswa dan mengecek kehadiran siswa sekaligus memberi motifasi kepada siswa. (religius, cinta kebersihan, tanggung jawab, dan jujur) Tahap 1: Guru mula-mula memberikan pemancingan dengan menanyakan kesiapan belajar siswa, kemudian menanyakan pengalaman dan tentang paragraf argumentatif. (rasa ingin tahu, kreatif) Tahap 2: Guru melakukan pengarahan dengan mula-mula bertanya jawab tentang paragraf argumentatif, dan diakhiri dengan penegasan guru tentang tujuan pembelajaran yang harus dicapai dalam proses pembelajaran dalam pertemuan tersebut. (rasa ingin tahu) 10 menit B. Kegiatan Inti (65 menit) Tahap 1: Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok dengan jumlah siswa dalam satu kelompok adalah 4 orang siswa. Kelompok 1-4 didapatkan dari kertas undian bernomor 1-4 yang diberikan kepada siswa. Setiap siswa bergabung bersama siswa yang mendapatkan nomor yang sama. Masing-masing siswa memperhatikan contoh paragraf argumentatif. Melalui kegiatan pengelompokkan tersebut, setiap kelompok menemukan ciri-ciri paragraf argumentatif serta topik-topik pendapat yang dapat dikembangkan menjadi paragraf argumentatif dan menyajikan pada LKS I. Setiap kelompok menyajikan hasil kerjanya untuk ditanggapi dan dikoreksi oleh kelompok yang lain. Ketika peserta melakukan kegiatan, guru melakukan pemantauan dan penilaian proses. (rasa ingin tahu, tekun, jujur, disiplin, bersahabat/ komunikatif, dan bertanggung jawab) Tahap 2: Berdasarkan hasil kerja setiap kelompok pada LKS 1 maka setiap kelompok menuliskan paragraf argumentatif pada LKS 2 sebagai kognitif produk yang telah disediakan oleh guru. Setiap kelompok mengomentari hasil kerja kelompok lainnya. Dalam kegiatan ini, guru hanya sebatas mengarahkan serta memberikan penilaian, masukan perbaikan, dan layanan konsultasi. (tanggung jawab, kreatif, kritis, dan jujur) 65 menit C. Kegiatan Akhir (15 menit) Siswa bersama guru merumuskan kesimpulan umum atas semua butir pembelajaran yang telah dilakukan. (kreatif) Siswa diminta menyampaikan kesan dan saran terhadap proses pembelajaran yang baru dilakukan. (kreatif, bersahabat, jujur) 15 menit Sumber Pembelajaran Naskah Paragraf Argumentatif Buku Aktif dan Kreatif berbahasa Indonesia untuk kelas X SMA/MA Lembar Pegangan Guru LKS 1 dan LKS 2 LP 1 dan LP 2 Silabus Evaluasi dan Penilaian Evaluasi Evaluasi proses : dilakukan berdasarkan pengamatan terhadap aktivitas peserta (siswa) dalam menggarap tugas, diskusi, dan kegiatan tanya jawab. Evaluasi hasil : dilakukan berdasarkan analisis pekerjaan pada LKS. Penilaian Jenis Tagihan Tugas Kelompok Bentuk instrumen penilaian Uraian bebas LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BAHASA INDONESIA SMA KELAS X SEMESTER II Standar Kompetensi Menulis: Mengungkapkan informasi melalui penulisan paragraf dan teks pidato Kompetensi Dasar Menulis gagasan untuk mendukung suatu pendapat dalam bentuk paragraf argumentatif. Oleh Helni A1D3 09 065 LKS 1: LEMBAR KERJA SISWA Bahasa Indonesia Nama...................................................Kelompok.....................................................Tanggal Paragraf atau karangan argumentatif adalah karangan yang memberikan alasan kuat dan meyakinkan serta penjelasan-penjelasan yang kuat dengan maksud agar pembaca terpengaruh. Tuliskan karakteristik paragraf argumentatif! ...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... .................................................................................................................................................. .......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... .................................................................................................................................................. .................................................................................................................................................. Daftarkan topik-topik pendapat yang dapat dikembangkan menjadi paragraf argumentatif! .................................................................................................................................................. .................................................................................................................................................. .................................................................................................................................................. .................................................................................................................................................. .................................................................................................................................................. .................................................................................................................................................. .................................................................................................................................................. .................................................................................................................................................. LKS 2: LEMBAR KERJA SISWA Bahasa Indonesia Nama...................................................Kelompok.....................................................Tanggal Paragraf atau karangan argumentatif adalah karangan yang memberikan alasan kuat dan meyakinkan serta penjelasan-penjelasan yang kuat dengan maksud agar pembaca terpengaruh. Susunlah kerangka paragraf argumentatif! ...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... .................................................................................................................................................. ...................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... .................................................................................................................................................. Kembangkanlah kerangka karangan yang telah disusun menjadi paragraf argumentatif dengan menggunakan kata penghubung antarkalimat! .................................................................................................................................................. .................................................................................................................................................................................................................................................................................................... .................................................................................................................................................. .................................................................................................................................................. .................................................................................................................................................. .................................................................................................................................................. .................................................................................................................................................. .................................................................................................................................................. .................................................................................................................................................. LEMBAR PEGANGAN GURU (LPG) BAHASA INDONESIA SMA KELAS X SEMESTER II Standar Kompetensi Menulis: Mengungkapkan informasi melalui penulisan paragraf dan teks pidato Kompetensi Dasar Menulis gagasan untuk mendukung suatu pendapat dalam bentuk paragraf argumentatif. Oleh Helni A1D3 09 065 MENULIS PARAGRAF ARGUMENTATIF DENGAN MENGGUNAKAN KONJUNGSI Paragraf argumentasi adalah sebuah paragraf yang menjelaskan pendapat dengan berbagai keterangan dan alasan. Hal ini dimaksudkan untuk meyakinkan pembaca. Selain itu, paragraf tersebut dikembangkan dengan pola pengembangan sebab akibat. Hubungan sebab akibat mula-mula bertolak dari suatu peristiwa yang dianggap sebagai sebab yang diketahui, kemudian bergerak maju menuju suatu kesimpulan sebagai efek atau akibat. Efek yang muncul dapat berupa efek tunggal dan efek jamak. Tujuan yang ingin dicapai melalui pemaparan argumentasi ini, antara lain : melontarkan pandangan / pendirian mendorong atau mencegah suatu tindakan mengubah tingkah laku pembaca menarik simpati Ciri-ciri paragraf argumentasi adalah sebagai berikut: Paragraf argumentasi mengandung kebenaran untuk mengubah sikap dan keyakinan orang mengenai topik yang dibahas. Paragraf argumentasi mengandung data atau fakta-fakta yang dapat dipertanggungjawabkan. Penjelasan dalam paragraf argumentasi disampaikan secara logis. Data dan fakta yang digunakan untuk menyusun wacana atau paragraf argumentasi dapat diperoleh melalui wawancara, angket, observasi, penelitian lapangan, dan penelitian kepustakaan. Dilihat dari struktur informasinya, dalam paragraf argumentasi akan ditemukan: Pendahuluan, bertujuan untuk menarik perhatian pembaca, memusatkan perhatian pembaca kepada argumen yang akan disampaikan, atau menunjukkan dasar-dasar mengapa argumentasi dikemukakan. Tubuh argumen, bertujuan untuk membuktikan kebenaran yang akan disampaikan dalam paragraf argumentasi sehingga kesimpulan yang akan dicapai juga benar. Kebenaran yang disampaikan dalam tubuh argument harus dianalisis, disusun, dan dikemukakan dengan mengadakan observasi, eksperimen, penyusun fakta, dan jalan pikiran yang logis. Kesimpulan atau ringkasan, bertujuan untuk membuktikan kepada pembaca bahwa kebenaran yang ingin disampaikan melalui proses penalaran memang dapat diterima sebagai sesuatu yang logis. Adapun langkah-langkah dalam menulis argumentasi adalah sebagai berikut: memilih topik karangan, mengumpulkan bahan, menyusun kerangka karangan, mengembangkan pendahuluan, mengembangkan isi karangan, membuat penutup karangan. Pada kegiatan mengarang paragraf argumentatif dibutuhkan konjungsi sebagai penghubung antar kalimat. Konjungsi adalah kata sambung yang berfungsi menghubungkan frasa, klausa, dan kalimat dalam suatu konstruksi dengan berbagai cara. Ciri-ciri konjungsi antara lain yaitu: Koordinasi menghubungkan dua klausa atau lebih yang setara, sedangkan koordinasi menghubungkan dua klausa yang salah satu diantaranya merupakan bagian dari klausa yang lain. Bagian kalimat yang dihubungkan oleh konjungsi, baik koordinatif maupun subordinatif itu sendiri dapat berbentuk kalimat majemuk; dan Pada umumnya posisi klausa yang didahului subordinatif dan, atau, dan tetapi, tidak dapat diubah tanpa menghasilkan kalimat yang tidak berterima jika klausa ditempatkan di awal kalimat. Lain halnya dengan kalimat yang diawali dengan subordinator seperti selama, walaupun, dan sebelum. Pemindahan klausa subordinatif pada awal kalimat menghasilkan kalimat yang baik. Acuan kataforis (pronomina mendahului nomina yang diacunya) diperbolehkan dalam hubungan subordinatif tetapi tidak diperbolehkan dalam hubungan koordinasi. Klasifikasi konjungsi adalah sebagai berikut: Konjungsi Koordinatif Konjungsi koordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua klausa atau lebih, kedua unsur itu memiliki status sintaksis yang sama, dan kedudukannya sederajat. Karena konjungsi ini selalu menghubungkan dua konstituen maka letaknya tidak terdapa pada awal kalimat. Kelompok konjungsi ini yaitu: dan menandai hubungan penambahan; atau menandai hubungan pemilihan; tetapi menandai hubungan perlawanan; serta menandai hubungan perdampingan; sedangkan menandai hubungan pertentangan; padahal menandai hubungan pertentangan; melainkan menyatakan hubungan pertentangan; kemudian; dan lalu menyatakan hubungan urutan. Contoh pemakaian konjungsi koordinatif dalam kalimat antara lain adalah sebagai berikut. Ia pergi bersama anak dan istrinya. Kakaknya sangat pandai tetapi adiknya bodoh. Konjungsi Subordinatif Konjungsi subordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua klausa atau lebih, dan klausa itu tidak memiliki status sintaksis yang sama atau kedudukannya tidak sederajat. Salah satu dari kalimat itu merupakan anak kalimat dari kalimat induknya. Konstituen yang satu menjadi atasan yang bebas dan konstituen yang lain menjadi konstituen bawahan yang kedudukannya tergantung pada konstituen pertama. Dilihat dari perilaku sintaksis dan semantiknya, konjungsi subordinatif dapat dibagi menjadi tiga belas kelompok kecil. Berikut adalah kelompok-kelompok konjungsi subordinatif. Konjungsi subordinatif waktu antara lain, yaitu sejak, semenjak, sedari, sewaktu, ketika, tatkala, sementara, begitu, seraya, selagi, selama, sambil, demi, setelah, sesudah, sebelum, sehabis, selesai, seusai, sehingga, dan sampai. Konjungsi subordinatif syarat anatara lain, yaitu jika, kalau, jikalau,asal(kan), bila, manakala. Konjungsi subordinatif pengandaian antara lain, yaitu andaikan, seandainya, umpamanya, dan sekiranya. Konjungsi subordinatif kosesif antara lain, yaitu biarpun, meskipun, walaupun, sekalipun, sungguhpun, kendatipun. Konjungsi subordinatif pembandingan antara lain, yaitu seakan-akan, seolah-olah, sebagaimana, seperti, sebagai, laksana, ibarat, daripada, dan alih-alih. Konjungsi subordinatif sebab antara lain, yaitu sebab, karena, oleh karena, dan oleh sebab. Konjungsi subordinatif hasil antara lain, yaitu sehingga, sampai-sampai, dan maka(nya). Konjungsi subordinatif alat antara lain, yaitu dengan, tanpa. Konjungsi subordinatif cara antara lain, yaitu dengan, dan tanpa. Konjungsi subordinatif komplementasi antara lain, yaitu bahwa. Konjungsi subordinatif atribut antara lain, yaitu yang. Konjungsi subordinatif perbandingan antara lain, yaitu sama, dengan, dan lebih ... daripada. Contoh pemakaian konjungsi subordinatif dalam kalimat antara lain adalah sebagai berikut. Ayah pergi ke kantor ketika sedang hujan. Orang tuanya telah meninggal dunia sehingga ia tidak dapat melanjutkan sekolahnya. Konjungsi Korelatif Konjungsi korelatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua kata, frasa, atau klausa dan kedua unsur itu memiliki status sintaksis yang sama. Konjungsi korelatif terdiri atas dua bagian yang dipisahkan oleh salah satu kata, frasa, atau klausa yang dihubungkan. Konjungsi korelatif ini antara lain, yaitu (1) baik ... maupun..., (2) tidak hanya ... tetapi ... juga ..., (3) demikian ... sehingga ..., (4) bukan ... melainkan ..., (5) tidak ... tetapi ..., (6) apa(kah) ... atau ..., (7) entah ... entah ..., (8) jangankan ... pun ... Contoh pemakaian konjungsi korelatif dalam kalimat antara lain adalah sebagai berikut. Baik orang tua maupun anaknya sama-sama suka membantu orang lain. Tidak hanya berbakti kepada orang tua, tetapi kita juga harus harus berbakti kepada orang yang lebih tua. Konjungsi Antarkalimat Berbeda dengan konjungsi yang lainnya, konjungsi antarkalimat menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lain. Oleh karena itu, konjungsi ini selalu memulai suatu kalimat yang baru, dan tentu saja huruf pertamanya ditulis dengan huruf kapital. Konjungsi antarkalimat ini antara lain, yaitu biarpun demikian/begitu, sekalipun demikian/begitu, sungguhpun demikian/begitu, walaupun demikian/begitu, meskipun demikian/begitu, sesudah itu, setelah itu, selanjutnya, tambahan pula, lagipula, selain itu, sebaliknya, sesungguhnya, bahwasanya, malahan, bahkan, (akan) tetapi, namun, kecuali itu, dengan demikian, oleh karena itu, karena itu, oleh sebab itu, sebab itu, sebelum itu, jadi, kalau begitu, itulah sebabnya, karena itulah. Contoh pemakaian konjungsi antarkalimat antara lain adalah sebagai berikut. Imran anak yang baik. Selain itu, dia juga anak yang pandai. Ibu Rina pergi mengajar di kelas saya. Sesudah itu, ia mengajar di kelas sebelah. Konjungsi Antarparagraf Jika konjungsi antarkalimat menghubungkan dua kalimat dan memulai suatu kalimat baru, konjungsi paragraf pada umumnya melalui suatu paragraf. Hubungan dengan paragraf sebelumnya berdasarkan makna yang terkandung pada paragraf sebelum itu. Konjungsi antarparagraf antara lain, yaitu adapun, akan hal, mengenai, dalam pada itu, alkisah, arkian, sebermula, syahdan. Contoh pemakaian konjungsi antarparagraf antara lain adalah sebagai berikut. Kemarin bapak anak itu meninggal. Ia sangat sedih. Hal ini terlihat pada saat jenazah ayahnya akan disemayamkan ie menangis histeris. Ia seakan tidak rela kehilangan orang tuanya. Adapun meninggalnya bapak anak itu disebabkan karena ulah anak itu sendiri. Pada saat anak itu bertengkar dengan bapaknya tiba-tiba penyakit jantung yang diderita bapaknya kambuh. LEMBAR PENILAIAN (LP) BAHASA INDONESIA SMA KELAS X SEMESTER II Standar Kompetensi Menulis: Mengungkapkan informasi melalui penulisan paragraf dan teks pidato Kompetensi Dasar Menulis gagasan untuk mendukung suatu pendapat dalam bentuk paragraf argumentatif. Oleh Helni A1D3 09 065 LP 1: KOGNITIF PROSES No. Komponen Deskriptor Skor 0 1 2 3 1. Menuliskan karakteristik paragraf argumentatif Tepat cukup tepat kurang tepat tidak tepat 2. Mendaftar topik-topik pendapat yang dapat dikembangkan menjadi paragraf argumentatif. Aktual cukup aktual kurang aktual tidak aktual Keterangan: 3 = tepat 2 = cukup tepat 1 = kurang tepat 0 = tidak tepat Pemberian nilai Rumus: Nilai=(Skor Perolehan Siswa)/(Skor Maksimum) x Bobot LP 2: KOGNITIF PROSES Pedoman Penskoran No. Komponen Deskriptor Skor 0 1 2 3 Menentukan topik yang akan dikembangkan menjadi paragraf argumentatif. Aktual cukup aktual kurang aktual tidak aktual Menyusun kerangka paragraf argumentatif. sesuai dengan topik yang dipilih. cukup sesuai dengan topik yang dipilih. kurang sesuai dengan topik yang dipilih. tidak sesuai dengan topik yang dipilih. Keterangan: 3 = tepat 2 = cukup tepat 1 = kurang tepat 0 = tidak tepat Pemberian nilai Rumus: Nilai=(Skor Perolehan Siswa)/(Skor Maksimum) x Bobot LP 3: KOGNITIF PSIKOMOTOR Pedoman Penskoran No. Komponen Deskriptor Skor 0 1 2 3 Mengembangkan kerangka yang telah disusun menjadi paragraf argumentatif. daya tarik tulisan menarik daya tarik tulisan cukup menarik daya tarik tulisan kurang menarik daya tarik tulisan tidak menarik Menggunakan kata penghubung antarkalimat (oleh karena itu, dengan demikian, dan lain-lain) dalam paragraf argumentatif. penggunaan kata penghubung sesuai. penggunaan kata penghubung cukup sesuai. penggunaan kata penghubung kurang sesuai. penggunaan kata penghubung tidak sesuai. Menyunting paragraf argumentatif yang ditulis teman. tata bahasa baik tata bahasa cukup baik tata bahasa kurang baik tata bahasa tidak baik Keterangan: 3 = sangat baik 2 = kurang baik 1 = cukup baik 0 = kurang baik Pemberian nilai Rumus: Nilai=(Skor Perolehan Siswa)/(Skor Maksimum) x Bobot LP 4: KOGNITIF AFEKTIF (KARAKTER) Pedoman Penskoran No. Urut Siswa Karakter Jujur Kritis Ingin tahu Tanggung jawab Kreatif Disiplin Bersahabat 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 2. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 3. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 4. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 5. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 6. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 7. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 8. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 9. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 10. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 11. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 12. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 13. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 14. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 15. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Keterangan: 4 = sangat baik 3 = baik 2 = kurang baik 1 = tidak baik LP5: KOGNITIF AFEKTIF (KECAKAPAN SOSIAL) Pedoman Penskoran No. Urut Siswa Karakter Inisiatif Berbahasa santun dan komunikatif Partisipasi dalam kerja sama 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 2. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 3. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 4. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 5. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 6. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 7. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 8. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 9. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 10. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 11. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 12. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 13. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 14. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 15. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Keterangan: 4 = sangat baik 3 = baik 2 = kurang baik 1 = tidak baik CONTOH PARAGRAF ARGUMENTASI Contoh I: Sebagian anak Indonesia belum dapat menikmati kebahagiaan masa kecilnya. Pernyataan demikian pernah dikemukakan oleh seorang pakar psikologi pendidikan Sukarton (1992) bahwa anakanak kecil di bawah umur 15 tahun sudah banyak yang dilibatkan untuk mencari nafkah oleh orang tuanya. Hal ini dapat dilihat masih banyaknya anak kecil yang mengamen atau mengemis di perempatan jalan atau mengais kotak sampah di TPA, kemudian hasilnya diserahkan kepada orang tuanya untuk menopang kehidupan keluarga. Lebih-lebih sejak negeri kita terjadi krisis moneter, kecenderungan orang tua mempekerjakan anak sebagai penopang ekonomi keluarga semakin terlihat di mana-mana. Keterangan: Contoh kalimat pertama (1) di atas adalah pernyataan/pendapat dan kalimat kedua adalah pendukung. Di samping itu, penulis pun menjelaskan hubungan antara pernyataan/pendapat dengan fakta/ data pendukung, agar pembaca mempunyai gambaran yang jelas tentang hal yang disampaikan. Lebih-lebih bila tulisan itu disertai data empiris yang dapat dipercaya kebenarannya. Contoh II: Pendidikan gratis hanya janji yang bergema luas saat kampanye dan pemilihan pimpinan daerah maupun pusat. Saat pemilihan usai akan lain ceritanya. Anak-anak miskin di kota, desa, dan pedalaman tetap mengalami kesulitan untuk mengakses pendidikan yang layak. Di perkotaan sekolah berlomba-lomba meningkatkan sarana dan prasaran dengan jalan menaikkan pungutan dengan dalil sumbangan pendidikan, uang gedung, dan lain-lain karena biasanya masyarakat perkotaan lebih memilih sekolah yang mempunyai sarana pendidikan yang baik sehingga mereka tidak akan segan untuk membayar mahal demi memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Sebaliknya di pinggiran kota, pedesaan, dan pedalaman, sekolah tidak bisa mengenakan pungutan kepada orang tua siswa karena tidak ada lagi yang bisa dipungut dari masyarakat. Para siswa harus puas dengan kondisi fasilitas pendidikan yang jauh dari kata layak. MEDIA PEMBELAJARAN CONTOH PARAGRAF ARGUMENTASI Contoh I: Sebagian anak Indonesia belum dapat menikmati kebahagiaan masa kecilnya. Pernyataan demikian pernah dikemukakan oleh seorang pakar psikologi pendidikan Sukarton (1992) bahwa anakanak kecil di bawah umur 15 tahun sudah banyak yang dilibatkan untuk mencari nafkah oleh orang tuanya. Hal ini dapat dilihat masih banyaknya anak kecil yang mengamen atau mengemis di perempatan jalan atau mengais kotak sampah di TPA, kemudian hasilnya diserahkan kepada orang tuanya untuk menopang kehidupan keluarga. Lebih-lebih sejak negeri kita terjadi krisis moneter, kecenderungan orang tua mempekerjakan anak sebagai penopang ekonomi keluarga semakin terlihat di mana-mana. Contoh II: Pendidikan gratis hanya janji yang bergema luas saat kampanye dan pemilihan pimpinan daerah maupun pusat. Saat pemilihan usai akan lain ceritanya. Anak-anak miskin di kota, desa, dan pedalaman tetap mengalami kesulitan untuk mengakses pendidikan yang layak. Di perkotaan sekolah berlomba-lomba meningkatkan sarana dan prasaran dengan jalan menaikkan pungutan dengan dalil sumbangan pendidikan, uang gedung, dan lain-lain karena biasanya masyarakat perkotaan lebih memilih sekolah yang mempunyai sarana pendidikan yang baik sehingga mereka tidak akan segan untuk membayar mahal demi memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Sebaliknya di pinggiran kota, pedesaan, dan pedalaman, sekolah tidak bisa mengenakan pungutan kepada orang tua siswa karena tidak ada lagi yang bisa dipungut dari masyarakat. Para siswa harus puas dengan kondisi fasilitas pendidikan yang jauh dari kata layak.