Sabtu, 26 Mei 2012

PROPOSAL KEANEKA RAGAMAN BUDAYA BUTON UTARA


BAB I

PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Propinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara, terletak antara        3° - 6° lintang selatan dan 120° - 124° bujur timur, merupakan wilayah daratan dan kepulauan; berbatasan di sebelah utara dengan Propinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah, di sebelah timur dengan Laut Banda, di sebelah selatan dengan Laut Flores, dan di sebelah barat dengan Teluk Bone.
Wilayah Propinsi Sulawesi Tenggara mencakup wilayah seluas 38.140 kilometer persegi. Tata guna lahan pada tahun 1990 meliputi areal hutan seluas 25.668 kilometer persegi atau 67,3 persen, areal semak belukar seluas 4.195 kilometer persegi atau 11 persen, areal padang rumput seluas 3.700 kilometer persegi atau 9,7 persen, areal ladang seluas 1.220 kilometer persegi atau 3,2 persen, dataran tinggi seluas 1.335 kilometer persegi atau 3,5 persen, areal sawah 610 kilometer persegi atau 1,6 persen, areal perkebunan seluas 191 kilometer persegi atau 0,5 persen, areal pemukiman seluas 648 kilometer persegi atau 1,7 persen, dan areal

budi daya lainnya 572 kilometer persegi atau 1,5 persen dari seluruh luas wilayah.
Propinsi Sulawesi Tenggara merupakan wilayah yang berbukit-bukit dan pegunungan, dan berada pada ketinggian antara 500 - 2.800 meter di atas permukaan laut. Wilayah ini memiliki beberapa sungai yang relatif besar yang merupakan sumber pengairan, antara lain Sungai Konaweha, Lambandia, Matarombeo, Lasolo, dan Watanakole. Iklim daerah Sulawesi Tenggara termasuk tropis yang dipengaruhi oleh angin laut sehingga curah hujan cukup tinggi dan merata setiap tahunnya beragam antara 1.000 - 2.500 milimeter. Suhu udara beragam antara 20°Celcius - 34°Celcius. Dengan kondisi fisik seperti tersebut di atas, beberapa kawasan di propinsi ini mempunyai ciri sebagai kawasan yang rawan terhadap bencana, antara lain erosi tanah, banjir, dan kebakaran hutan.
Lahan di Propinsi Sulawesi Tenggara sebagian besar telah dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian, pertambangan, dan industri. Selain itu, di propinsi tersebut masih terdapat potensi yang cukup besar untuk pengembangan kehutanan, perikanan laut, perikanan darat dan pertambangan.
Pada tahun 1990 penduduk Propinsi Sulawesi Tenggara berjumlah 1.357.300 jiwa, dengan kepadatan penduduk 36 jiwa per kilometer persegi. Daerah tingkat II yang terpadat penduduknya adalah Kabupaten Buton dengan kepadatan 61 jiwa per kilometer persegi, sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Kolaka dengan kepadatan rata-rata 23 jiwa per kilometer persegi. Penduduk yang tinggal di wilayah perkotaan berjumlah 229.826 orang atau 17,0 persen dari jumlah penduduk Propinsi Sulawesi Tenggara. Jumlah penduduk perkotaan di propinsi ini mengalami peningkatan yang cukup berarti dengan rata-rata laju pertumbuhan antara tahun 1971 dan 1990 sebesar 8,93 persen per tahun.

Pada tahun 1990 penduduk usia kerja (10 tahun ke atas) di propinsi ini berjumlah 907.706 orang (67,25 persen). Dari jumlah tersebut yang masuk ke dalam angkatan kerja 547.166 orang dan angkatan kerja yang bekerja sebanyak 539.542 orang. Dari seluruh angkatan kerja yang bekerja tersebut, sebagian besar terserap di sektor pertanian (68,8 persen). Sisanya terserap di berbagai sektor lain, yaitu sektor industri (7,9 persen) dan jasa (23,3 persen).
Propinsi Sulawesi Tenggara memiliki kekayaan budaya yang beranekaragam dalam bentuk adat istiadat, tradisi, seni, budaya, dan Bahasa. Masyarakat Sulawesi Tenggara terdiri atas berbagai suku antara lain, suku Buton, Muna, Bugis, Kalisusu, Toraja, Maronene, Tolaki, Wolio, dan Wowonii, serta suku lainnya yang masing-masing memiliki kebudayaan dan adat istiadatnya sendiri. Penduduk propinsi ini sebagian besar beragama Islam (94,95 persen), dan selebihnya beragama Kristen (2,04 persen), dan agama lainnya (3,1 persen).
Secara administratif Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara terdiri atas 4 kabupaten daerah tingkat II, yakni kabupaten Kendari, Kolaka, Muna, dan Buton. Dalam wilayah Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara terdapat 2 kota administratif, yakni Kendari sebagai ibukota propinsi dan Bau Bau, dan 64 wilayah kecamatan, serta 809 desa dan kelurahan.
1.2  RUMUSAN MASALAH
Adapu yang menjadi permasalahan malam makalh ini adala
1.    Untukmengetahui sejauh mana perhatian pemerintah terhadap tingkat perkembangan hasil pertanian di Sulawesi tenggara
2.    Bagai mana tata cara pelaksanaan ke arsipan di Sulawesi tenggara tentang pengolalaan hasil pertanian pada kantor dinas pertanahan di Sulawesi tenggaa
BAB II
PAMBAHASAN
2.1  PEMBANGUNAN DAERAH TINGKAT I SULAWESI TENGGARA DALAM PJP I
Laju pertumbuhan ekonomi Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara yang relatif cepat tersebut didukung oleh laju pertumbuhan ekspor nonmigas rata-rata sebesar 25,0 persen per tahun antara tahun 1987 - 1992 dengan komoditas andalan kakao dan kayu gergajian.
Dalam periode 1983 - 1990 laju pertumbuhan PDRB tercatat sebesar 8,6 persen per tahun. Sektor yang menunjukkan pertum­buhan yang cukup tinggi adalah sektor industri pengolahan (24,8 persen); sektor listrik, gas, dan air minum (16,0 persen); serta sektor perdagangan, hotel, dan restoran (11,6 persen).
PDRB nonmigas per kapita pada tahun 1990 menurut harga konstan tahun 1983 di propinsi ini telah mencapai Rp394 ribu,   yang berarti telah meningkat dibandingkan dengan tahun 1983 yang besarnya Rp285 ribu, atau meningkat dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 4,72 persen per tahun.
Pembangunan di bidang kesejahteraan sosial telah menghasil­kan tingkat kesejahteraan sosial yang lebih baik yang ditunjukkan

oleh berbagai indikator. Jumlah penduduk melek huruf meningkat dari 52,57 persen pada tahun 1971 menjadi 82,36 persen pada     tahun 1990, angka kematian bayi per seribu kelahiran hidup turun dari 145 pada tahun 1971 menjadi 68 pada tahun 1990, dan usia harapan hidup penduduk meningkat dari 45,9 tahun pada tahun 1971 menjadi 60,4 tahun pada tahun 1990.
Peningkatan kesejahteraan itu didukung oleh peningkatan pelayanan kesehatan yang makin merata dan makin luas jang­kauannya. Pada tahun 1990 telah ada 12 unit rumah sakit dengan kapasitas tempat tidur sebanyak 666 buah, dan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) serta puskesmas pembantu sebanyak 382 unit dengan jangkauan pelayanan mencakup luasan 72,5 kilometer persegi dan dengan penduduk yang dilayani sebanyak 3.532 orang per puskesmas termasuk puskesmas pembantu. Jika dibandingkan dengan keadaan 1972, jumlah puskesmas baru mencapai 27 unit dengan jangkauan pelayanan mencakup luasan 1.025,4 kilometer persegi dan dengan penduduk yang dilayani sebanyak 27.267 orang per puskesmas.
Tingkat pendidikan rata-rata di Propinsi Sulawesi Tenggara telah menunjukkan peningkatan yang diperlihatkan oleh angka partisipasi kasar sekolah dasar (SD) yang pada tahun 1992 telah mencapai 107 persen, dibandingkan tahun 1972 yang baru mencapai 85,1 persen. Angka partisipasi tahun 1992 tersebut sama tinggi dengan tingkat nasional, yaitu sebesar rata-rata 107,5 persen pada tahun 1992. Tingkat partisipasi pendidikan ini didukung oleh ketersediaan sekolah yang makin meningkat. Pada tahun 1992 telah ada 1.673 unit SD. Pada tahun 1972 jumlah SD baru mencapai 650 unit. Peningkatan jumlah SD dan murid didukung oleh peningkatan jumlah guru. Pada tahun 1992 tercatat 12.981 orang guru SD dan setiap guru SD melayani 19 murid.
Pembangunan daerah Sulawesi Tenggara didukung oleh pembangunan prasarana dan sarana yang dilaksanakan, baik oleh

pemerintah pusat maupun pemerintah daerah tingkat I dan daerah tingkat II. Di bidang prasarana transportasi sampai dengan tahun 1992 telah dibangun dan ditingkatkan berbagai prasarana transportasi darat meliputi dermaga penyeberangan dan jaringan jalan yang mencapai 6.517 kilometer dengan tingkat kepadatan sebesar 199,7 kilometer per 1.000 kilometer persegi. Ketersediaan prasarana transportasi laut bagi daerah Sulawesi Tenggara juga sangat penting mengingat banyaknya daerah pantai dan kepulauan. Pelayaran dari dan ke berbagai pulau yang jaraknya relatif besar umumnya telah dilayani secara rutin baik oleh pelayaran perintis, maupun pelayaran swasta dan rakyat setempat. Penyediaan prasarana pelabuhan laut di Kendari dan empat pelabuhan laut lainnya terus ditingkatkan, selain itu prasarana transportasi udara juga mengalami peningkatan. Transportasi udara di Sulawesi Tenggara dilayani empat bandar udara (bandara), dan satu diantaranya adalah Bandar Udara Wolter Monginsidi di Kendari yang merupakan bandar udara utama yang pada saat ini dapat didarati oleh pesawat jenis F-28, bandar udara lainnya merupakan pelabuhan udara perintis, terdapat di Buton, Muna, dan Kendari Selatan.
Di bidang pengairan, meskipun masih terbatas, telah ada peningkatan prasarana pengairan seperti bendung dan jaringan irigasi. Pada tahun 1993 jaringan irigasi yang ada telah mengairi sawah seluas kurang lebih 50.000 hektare sehingga membantu peningkatan dan menunjang produksi pertanian. .
Penyediaan prasarana ketenagalistrikan di propinsi ini dilayani oleh Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) Wilayah VIII yang meliputi juga Propinsi Sulawesi Selatan, dan sampai dengan tahun 1991 telah menghasilkan daya terpasang sebesar 378 megawatt.
Investasi yang dilakukan Pemerintah di Propinsi Sulawesi Tenggara melalui anggaran pembangunan yang dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) menunjukkan kecenderungan yang meningkat. Alokasi anggaran pembangunan

yang berupa dana bantuan pembangunan daerah (Inpres) dan dana sektoral melalui daftar isian proyek (DIP) dalam Repelita IV dan V berjumlah masing-masing mencapai Rp422,6 miliar dan Rp720,7 miliar.
Perkembangan pendapatan asli daerah (PAD) menunjukkan peningkatan yang cukup berarti, dengan rata-rata pertumbuhan selama Repelita V kurang lebih 14,96% per tahun. Dalam masa itu PAD telah meningkat dari Rp3,1 miliar pada tahun 1989/90  menjadi Rp4,9 miliar pada tahun 1993/94. Peningkatan yang cukup berarti dari PAD dan Bantuan Pembangunan Daerah dari tahun ke tahun mempengaruhi pula peningkatan belanja pembangunan   dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) tingkat I Sulawesi Tenggara. Pada tahun pertama Repelita V belanja pembangunan daerah berjumlah Rp776,8 miliar dan pada tahun terakhir Repelita V meningkat menjadi Rpl.559,3 miliar. Bagian terbesar dari belanja pembangunan digunakan untuk membangun prasarana khususnya prasarana perhubungan.
Meskipun masih relatif kecil, investasi swasta telah menunjukkan peningkatan. Gejala tersebut terlihat dari jumlah proyek baru penanaman modal dalam negeri (PMDN) yang disetujui Pemerintah dalam masa empat tahun Repelita V, yaitu 9 proyek penanaman modal dalam negeri (PMDN) dengan nilai Rp286,1 miliar dan 6 proyek penanaman modal asing (PMA) dengan nilai US$74,1 juta.
Rencana tata ruang wilayah (RTRW) propinsi daerah tingkat I yang berupa rencana struktur tata ruang propinsi (RSTRP) dan RTRW kabupaten/kotamadya daerah tingkat II yang berupa    rencana umum tata ruang kabupaten/kotamadya (RUTRK) telah selesai disusun, meskipun pada akhir PJP I sedang dalam proses untuk ditetapkan sebagai peraturan daerah.

2.2 TANTANGAN, KENDALA, DAN PELUANG      PEMBANGUNAN
Pembangunan daerah tingkat I Sulawesi Tenggara selama PJP      I telah memberikan hasil yang secara nyata dirasakan oleh masyarakat, dengan makin meningkatnya kegiatan perekonomian didukung oleh meningkatnya ketersediaan prasarana dan sarana pembangunan daerah, meningkatnya taraf kesejahteraan dan makin tercukupinya kebutuhan dasar masyarakat termasuk pendidikan dasar dan kesehatan. Namun, disadari pula masih banyak masalah yang dihadapi.
Pembangunan yang telah banyak dilakukan di Daerah Tingkat    I Sulawesi Tenggara selama PJP I, dalam PJP II akan dilanjutkan dan ditingkatkan sesuai dengan GBHN 1993. Untuk itu, perlu ditemukenali berbagai tantangan dan kendala yang akan dihadapi, serta peluang yang dapat dimanfaatkan.
1.    Tantangan
Dalam PJP I telah banyak kemajuan yang dicapai Propinsi Sulawesi Tenggara. Namun, secara keseluruhan taraf kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakatnya yang ditunjukkan oleh berbagai indikator seperti tingkat PDRB nonmigas perkapita dan laju pertumbuhan PDRB nonmigas, angka melek huruf, dan angka harapan hidup relatif rendah dibandingkan dengan rata-rata nasional. Dengan demikian, tantangan utama pembangunan daerah Sulawesi Tenggara adalah meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan memperluas landasan ekonomi daerah yang didukung oleh peningkatan ekspor nonmigas dan perluasan kesempatan kerja sehingga mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dibutuhkan tenaga kerja yang berkualitas, dan produktif. Kondisi

ketenagakerjaan di Propinsi Sulawesi Tenggara ditandai oleh besarnya jumlah tenaga kerja yang terserap di sektor pertanian yang produktivitasnya relatif rendah, terutama di sektor pertanian tradisional, dibandingkan dengan tenaga kerja yang terserap di sektor nonpertanian, khususnya industri pengolahan dan jasa. Sektor industri dan jasa, yang berperan sebagai penggerak percepatan laju pertumbuhan ekonomi daerah, memerlukan tenaga kerja dengan produktivitas yang tinggi. Di propinsi ini kualitas tenaga kerja yang tersedia umumnya belum memenuhi tuntutan kualitas pasar tenaga kerja, khususnya dalam sektor ekonomi yang cepat pertumbuhannya. Dengan demikian, untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi Propinsi Sulawesi Tenggara, tantangannya adalah membentuk serta mengembangkan sumber daya manusia berkualitas, yaitu sumber daya manusia yang produktif dan berjiwa wiraswasta yang mampu mengisi, menciptakan, memperluas lapangan kerja, dan kesempatan berusaha.
Untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dibutuhkan investasi yang besar, sedangkan kemampuan investasi pemerintah terbatas sehingga untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperlukan peningkatan investasi oleh masyarakat dan dunia usaha. Sehu­bungan dengan itu, Propinsi Sulawesi Tenggara harus mampu menarik dunia usaha agar menanamkan modal dan mengem­bangkan potensi berbagai sumber daya pembangunan di propinsi ini. Dengan demikian, Propinsi Sulawesi Tenggara dihadapkan pada masalah untuk menciptakan iklim usaha yang menarik bagi investasi masyarakat dan dunia usaha. Dalam rangka menciptakan iklim usaha yang menarik di daerah, tantangannya adalah mengembangkan kawasan dan pusat pertumbuhan yang dapat menampung kegiatan ekonomi, memperluas lapangan kerja, dan sekaligus memenuhi fungsi sebagai pusat pelayanan.
Pertumbuhan ekonomi yang ingin dipercepat membutuhkan dukungan ketersediaan prasarana dasar yang memadai, antara lain transportasi, tenaga listrik, pengairan, air bersih, dan teleko­munikasi. Meskipun telah meningkat, ketersediaan prasarana

dasar daerah Sulawesi Tenggara, tetapi belum memenuhi kebutuhan maupun tuntutan kualitas pelayanan yang terus meningkat. Untuk daerah yang kondisi geografisnya seperti Propinsi Sulawesi Tenggara, diperlukan suatu sistem transportasi antarmoda yang menekankan sistem transportasi regional, pelayaran antarpulau oleh pelayaran armada rakyat yang terpadu dengan pelayaran perintis dan pelayaran nasional, serta sistem transportasi darat yang dapat meningkatkan keterkaitan wilayah produksi dengan pasar. Untuk meningkatkan efisiensi ekonomi, terutama dalam distribusi barang dan jasa, diperlukan dukungan prasarana dan sarana transportasi yang memadai. Di pihak lain ada keterbatasan kemampuan pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk membangun prasarana dan sarana transportasi guna mempercepat pembangunan daerah ini. Oleh karena itu, tantangan yang dihadapi adalah meningkatkan ketersediaan serta kualitas dan memperluas jangkauan pelayanan transportasi antarmoda secara terpadu dan optimal, dengan mengikutsertakan dunia usaha, serta dilakukan secara terkoordinasi dengan propinsi lainnya yang bertetangga.
Hasil pembangunan di bidang kesejahteraan sosial di Sulawesi Tenggara telah menunjukkan kemajuan cukup baik. Meskipun demikian, dengan kemajuan yang dicapai tersebut, propinsi ini masih relatif tertinggal dibandingkan dengan tingkat kemajuan rata-rata nasional. Di samping itu, di Propinsi Sulawesi Tenggara masih terdapat kesenjangan antargolongan masyarakat dan antardaerah, antara lain karena masih terbatasnya jangkauan prasarana dan sarana. Kondisi di atas menghadapkan Sulawesi Tenggara pada tantangan untuk meningkatkan, memeratakan, dan memperluas jangkauan dan mutu pelayanan kesehatan, pendidikan, dan pelayanan sosial lainnya serta jangkauan informasi sampai ke seluruh pelosok daerah.

Pada tahun 1993, jumlah desa tertinggal di propinsi masih cukup banyak, yaitu 327 desa atau 39,2 persen dari seluruh desa yang ada di Sulawesi Tenggara. Masalah kemiskinan yang memer­lukan penanggulangan secara khusus dan menyeluruh ini, merupa­kan tantangan pula bagi pembangunan daerah Sulawesi Tenggara dalam PJP II, khususnya Repelita VI.
Meningkatnya intensitas pembangunan selain mengakibatkan peningkatan penggunaan lahan, air, dan sumber daya alam lainnya, juga menimbulkan kerusakan sumberdaya alam dan menghasilkan limbah dalam jumlah yang makin meningkat. Hal ini berakibat menurunnya kualitas dan daya dukung lingkungan hidup. Dengan demikian, pembangunan daerah dihadapkan pada tantangan untuk membangun tanpa merusak lingkungan dan meningkatkan efektivitas pengelolaan dan rehabilitasi sumber daya alam sehingga menjamin pembangunan yang berkelanjutan.
Belum mantap dan meratanya kemampuan aparatur di daerah serta belum serasinya koordinasi antarlembaga dalam mengelola pembangunan, merupakan tantangan yang dihadapi dalam rangka memperkuat kemampuan manajemen dan kelembagaan di daerah.
2.    Kendala
Sebagai propinsi yang memiliki karakteristik fisik wilayah yang terdiri atas wilayah pegunungan dan berbukit-bukit, upaya pembangunan daerah dihadapkan kepada berbagai kendala yang erat kaitannya dengan kondisi geografis wilayah, terutama keterbatasan ketersediaan lahan dan air yang berkualitas yang menjadi kendala bagi pengembangan kegiatan produktif khususnya pertanian serta pengembangan prasarana dan sarana dasar pembangunan, khususnya sistem transportasi. Propinsi ini mempunyai jumlah penduduk yang relatif sedikit dibandingkan dengan luas wilayahnya, terutama terhadap

pengembangan potensi sumber daya alam yang luas. Selain itu, persebaran penduduk yang tidak merata dan kualitas sumber daya manusia yang masih rendah merupakan kendala, baik bagi upaya mengembangkan kegiatan ekonomi produktif maupun bagi upaya melayani kebutuhan dasar masyarakat secara efisien.
3.    Peluang
Hasil pembangunan yang telah dicapai propinsi ini selama PJP I dapat menjadi modal dan membuka peluang untuk meningkatkan pembangunan dalam PJP II. Hasil pembangunan berupa prasarana dan sarana sosial dan ekonomi, kelembagaan yang telah terbentuk dan berfungsi, peran serta masyarakat yang makin meningkat dalam kegiatan pembangunan adalah modal dan peluang yang dapat dikembangkan.
Propinsi Sulawesi Tenggara memiliki potensi sumber daya alam yang belum banyak dimanfaatkan. Demikian pula ada potensi pembangunan yang telah dimanfaatkan, tetapi belum optimal dikembangkan, antara lain adalah pertanian, kehutanan, pertam­bangan dan galian industri, pertanian, industri, dan pariwisata.
Sumber daya perikanan dan hasil laut Propinsi Sulawesi Tenggara dinilai mempunyai potensi kandungan yang cukup besar dan prospek yang sangat baik bagi pemenuhan permintaan pasar domestik dan internasional dengan komoditas andalannya antara lain ikan cakalang, tuna, teri, layang, dan ikan kerapu yang     terdapat di Londano, Bungkinalo, Lakare, Runa, dan Lasolo. Potensi kehutanan di propinsi ini terutama dimiliki oleh Kabupaten Kolaka, Kendari, dan Muna dengan komoditas antara lain kayu   jati, kayu cendana, kayu hitam, kayu rimba pooti, bakau, damar, dan rotan.
Di sektor pertambangan dan galian, Propinsi Sulawesi Tenggara memiliki potensi berbagai mineral dan bahan galian ter­utama bahan logam seperti nikel di daerah Pomala dan di Kolaka,

aspal di Buton serta bahan lainnya, seperti chromit, pasir, batu koral, batu kali, marmer, batu gamping, serta tanah liat yang tersebar dalam jumlah yang cukup besar untuk dikembangkan.
Industri, baik yang berbasis sumber daya alam khususnya industri pengolahan hasil hutan dan hasil kelautan maupun yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), seperti industri maritim dan perkapalan, serta bioteknologi dan akuakultur, memiliki potensi untuk dikembangkan.
Pariwisata juga merupakan sektor yang berpeluang untuk dikembangkan. Potensi wisata alam, bahari, agrowisata, dan budaya dapat dikembangkan secara lebih optimal dengan memanfaatkan kekayaan pemandangan alam Propinsi Sulawesi Tenggara yang memiliki rona alam bergunung-gunung, garis pantai yang panjang, pulau-pulau, dan taman lautnya, serta latar belakang sejarah dan keanekaragaman tradisi, seni, dan budaya setempat yang unik dan menarik.
 
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Hasil pembangunan di bidang kesejahteraan sosial di Sulawesi Tenggara telah menunjukkan kemajuan cukup baik. Meskipun demikian, dengan kemajuan yang dicapai tersebut, propinsi ini masih relatif tertinggal dibandingkan dengan tingkat kemajuan rata-rata nasional. Di samping itu, di Propinsi Sulawesi Tenggara masih terdapat kesenjangan antargolongan masyarakat dan antardaerah, antara lain karena masih terbatasnya jangkauan prasarana dan sarana. Kondisi di atas menghadapkan Sulawesi Tenggara pada tantangan untuk meningkatkan, memeratakan, dan memperluas jangkauan dan mutu pelayanan kesehatan, pendidikan, dan pelayanan sosial lainnya serta jangkauan informasi sampai ke seluruh pelosok daerah.

Cintamu adalah harapanq....!!!!!!


Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan, walaupun itu penuh dengan cobaan dan rintangan yang silih berganti, tapi keyakin berkata dibalik semua itu adalah harapan....
Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh di dalam diri kita. Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian cinta diharapkan berasal dari hati kita yang paling dalam. Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai dia.
Cinta...
Cinta yang belum matang berkata:
"Aku cinta kamu karena aku butuh kamu"
Cinta yang sudah matang berkata:
"Aku butuh kamu karena aku cinta kamu"
Nafsu hanya akan memberikan kebahagiaan sesaat
tapi cinta yang tulus dan sejati akan memberikan
kebahagiaan selamanya
Cinta tidak membuat dunia berputar
Cinta inilah yang membuat perjalanan tersebut berharga
Setetes kebencian di dalam hati
Pasti akan membuahkan penderitaan
Tapi setetes cinta di dalam relung hati
akan membuahkan kebahagiaan sejati
Bahagialah bagi orang yang mengerti akan arti cinta,
Karena Cinta itu akan memberikan warna bagi kehidupan
Engkau adalah wanita yang paling tepat untuk mendampingiku menjadi yang terbaik.....

Love, 2012....
                                    Heltief....
Cintamu adalah harapanq....!!!!!!
Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan, walaupun itu penuh dengan cobaan dan rintangan yang silih berganti, tapi keyakin berkata dibalik semua itu adalah harapan....
Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh di dalam diri kita. Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian cinta diharapkan berasal dari hati kita yang paling dalam. Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai dia.
Cinta...
Cinta yang belum matang berkata:
"Aku cinta kamu karena aku butuh kamu"
Cinta yang sudah matang berkata:
"Aku butuh kamu karena aku cinta kamu"
Nafsu hanya akan memberikan kebahagiaan sesaat
tapi cinta yang tulus dan sejati akan memberikan
kebahagiaan selamanya
Cinta tidak membuat dunia berputar
Cinta inilah yang membuat perjalanan tersebut berharga
Setetes kebencian di dalam hati
Pasti akan membuahkan penderitaan
Tapi setetes cinta di dalam relung hati
akan membuahkan kebahagiaan sejati
Bahagialah bagi orang yang mengerti akan arti cinta,
Karena Cinta itu akan memberikan warna bagi kehidupan
Engkau adalah wanita yang paling tepat untuk mendampingiku menjadi yang terbaik.....

Love, 2012....
                                    Heltief....